Kembangkan Bisnis Sapi Perah

Desa Jetak, Kecamatan Getasan

442
SUSU: Kades Jetak, Sutrimo saat menunjukkan beberapa sapi perah yang saat ini dikelola oleh warga setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SUSU: Kades Jetak, Sutrimo saat menunjukkan beberapa sapi perah yang saat ini dikelola oleh warga setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Pertanian saat ini tidak terlalu dilirik oleh warga Desa Jetak, Kecamatan Getasan. Pasalnya, hasil dari sektor pertanian dinilai menjadi faktor utama warga setempat meninggalkan profesi warisan nenek moyang tersebut.

Kades Jetak, Sutrimo mengungkapkan warga setempat sejak enam tahun terakhir lebih memilih menggeluti bisnis sapi perah dan pengolahan susu. Menurutnya hasil yang diperoleh dari beternak sapi perah lebih besar jika dibanding bertani sawah.”Karenannya semua warga disini berpindah haluan ke peternak sapi perah,” ujar Sutrimo, Kamis (4/1).

Dijelaskannya pada awalnya masyarakat setempat banyak yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Karena kondisi cuaca yang tidak menentu serta masa panen yang hanya setahun dua kali membuat warga Desa itu mencari cara lain meningkatkan perekonomiannya. Ide beternak sapi perah kemudian muncul dan coba dikembangkan segelintir warga saja.

Karena berhasil, kemudian warga yang lain mengikuti hal serupa. Saat ini sudah ada ribuan peternak sapi perah yang tergabung dalam 12 kelompok. Kondisi tersebut menyita perhatian Pemkab Semarang dan pihak perbankan.

Beberapa bantuan dari Pemkab Semarang sudah dikucurkan ke Desa tersebut untuk memperbesar ternak sapi perah. Bahkan pihak perbankan saat ini tidak segan-segan memberikan bantuan kredit tanpa menggunakan agunan.

”Jadi agunannya hanya kepercayaan saja. Disini khan ada 12 dusun, jadi satu dusun ada yang satu kelompok, ada yang lebih dari satu kelompok. Bahkan dua sampai tiga kelompok,” katanya.

Karenannya, Desa tersebut saat ini dijuluki dengan Desa Sentra Komoditas Unggulan Susu (Sepaku). Nampaknya, warga tidak puas dengan hanya beternak sapi perah saja. Kemudian warga melebarkan sayap bisnisnya dengan pengolahan susu sapi perah tersebut.“Dulu susu dari hasil perahan sapi dibeli perusahaan susu besar. Kemudian saat ini kami membuat pengolahan sendiri, karena mendapat pinjaman mudah dari bank,” katanya.

Jumlah sapi perah sendiri di desa tersebut terhitung ada 1000 lebih. Pengolahannya kini tidak hanya jadi susu siap konsumsi saja, namun juga menjadi makanan. ”Satu ekor untungnya 15 ribu per 10 hari. Pemasaran ke pabrik susu besar,” katanya. Sistem pemasaran sendiri saat ini tidak melalui jemput bola.

Namun pihak pembeli datang langsung ke desa tersebut untuk membeli hasil perahan dan olahan. Seperti halnya Koperasi Unit Desa (KUD) dari Kabupaten Boyolali. KUD tersebut langsung datang ke lokasi peternak untuk mengambil langsung susu hasil perahan peternak. (ewb/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here