MULAI DIMINATI : Industri pasar modal di Semarang kian tumbuh. Hal tersebut tak lepas dari gencarnya edukasi yang diberikan pada masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MULAI DIMINATI : Industri pasar modal di Semarang kian tumbuh. Hal tersebut tak lepas dari gencarnya edukasi yang diberikan pada masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Industri pasar modal di Semarang sepanjang tahun lalu menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari tumbuhnya dua indikator, yaitu investor serta perusahaan efek.

Kepala Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan Semarang Fanny Rifqi El Fuad mengatakan, investor saham di Semarang hingga November tahun lalu mencapai 13.550. Jumlah tersebut meningkat 20 persen bila dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 11.000 investor.

“Dari jumlah tersebut, komposisi terbanyak berasal dari usia produktif antara 35 – 50 tahun, posisi berikutnya diduduki oleh kalangan anak-anak muda yang berusia antara 18-20 tahun. Ini juga cukup menarik, dimana rata-rata investor baru muncul dari kalangan anak muda,” ujarnya, kemarin.

Tahun ini, pihaknya menargetkan pertumbuhan investor antara 5.000 – 6.000. Salah satu upayanya yaitu dengan gencar melakukan edukasi, khususnya ke kampus-kampus untuk menggaet segmen anak muda.

Seperti yang dilakukan pada tahun lalu melalui kerjasama dengan sejumlah universitas. Hasilnya saat ini sudah terdapat 21 galeri investasi di area Jawa Tengah bagian utara. Yaitu 1 di Tegal, 2 di Pekalongan, 2 di Salatiga, 1 di Jepara, 1 di Kudus serta 15 galeri di Semarang.

“Galeri tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu pusat informasi terkait investasi khususnya di pasar modal. Selain itu, sejumlah workshop maupun seminar yang kami lakukan diharapkan juga dapat mengedukasi masyarakat kampus maupun lingkungan sekitarnya. Sehingga muncul investor-investor baru,” ujarnya.

Pertumbuhan investor tersebut, lanjutnya juga diikuti oleh penambahan jumlah perusahaan pialang saham yang menjadi tempat para investor melakukan transaksi jual beli saham. Yaitu dari yang sebelumnya berjumlah 21, pada tahun 2017 lalu bertambah menjadi 24 perusahaan.

“Di tahun 2018 ini, kami harapkan juga ada penambahan cabang baru perusahaan efek, baik di Semarang maupun kota-kota lain yang berpotensi untuk pengembangan pasar modal. Diantaranya Tegal, Pekalongan, Kudus, Salatiga dan Jepara,” ujarnya. (dna/ric)