MENGGODA: Sejumlah penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat belanja sayur keliling. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGGODA: Sejumlah penghuni Lokalisasi Sunan Kuning saat belanja sayur keliling. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Rencana penutupan Resosialisasi Argorejo RW 4, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, sebetulnya bukan kabar baru bagi para penghuni kampung yang dikenal dengan nama Lokalisasi Sunan Kuning ini. Sebelumnya, wacana penutupan sudah beberapa kali dihembuskan, namun selalu gagal. Nah, kabar penutupan lokalisasi kali ini membuat sejumlah penghuni lokalisasi terbesar di Kota Semarang ini khawatir.

Mereka menyatakan menolak apabila penutupan lokalisasi ini benar-benar dilakukan oleh Kementerian Sosial dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pada 2018 ini. “Memang, kabar rencana penutupan itu sudah lama. Hampir semua warga sudah tahu. Beberapa waktu lalu malah sudah diminta tanda tangan. Kami menolak kalau dilakukan sekarang (2018),” kata salah satu warga di Argorejo, sebut saja Mami, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (3/1).

Mengapa menolak? Sebab, rata-rata penghuni Argorejo mengontrak rumah di kawasan tersebut. Para penghuni rumah hiburan di Argorejo hampir semuanya pendatang. “Ada yang dari Jepara, Wonogiri, Gunungkidul, Solo dan lain-lain. Mereka di sini mengontrak rumah. Mengapa menolak? Ya, karena kalau mendadak digusur mengalami kerugian besar. Sebab, biaya kontrak rumah di sini terbilang mahal, yakni berkisar Rp 100 juta per tahun. Pemilik rumah yang asli biasanya membeli rumah di tempat lain,” bebernya.

Jika rencana penutupan itu benar dilakukan, ia tidak bisa berbuat banyak. Mau tidak mau harus mengikuti program pemerintah. “Tetapi setidaknya kami meminta keringanan hingga 2019, ‘kersane angsal duit rumiyin’ (biar mendapat uang dulu),” kata Mami.

Di lokasi Argorejo, sedikitnya terdapat 177 wisma karaoke, dikelola oleh 158 mucikari dan sebanyak 487 wanita pekerja seks komersial (PSK) tersebar di 6 RT, dengan lahan seluas 3,5 hektare. Tidak hanya itu, bisnis prostitusi ini memiliki mata rantai ekonomi ribuan orang. Sedikitnya ada 240 tenaga operator karaoke, puluhan tukang laundry, toko kelontong dan ratusan pedagang kaki lima (PKL). Data tersebut adalah yang tercatat oleh pengurus Resosialisasi Argorejo.

Selain itu, masih terdapat ratusan wanita yang bekerja sebagai pemandu karaoke freelance yang tidak terdata oleh pengurus. Diperkirakan, transaksi uang per hari rata-rata tak kurang dari Rp 500 juta. Dalam satu bulan, terdapat transaksi keuangan kurang lebih Rp 15 miliar di tempat lokalisasi ini.