RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kemiskinan di Jawa Tengah (Jateng) terus mengalami penurunan. Sejumlah program yang lebih spesifik perlu diterapkan guna terus menekan angka kemiskinan tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada September 2017 mencapai 4,20 juta orang. Jumlah tersebut berkurang sebesar 252,23 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 4,45 juta orang.

“Tren-nya cukup positif, kemiskinan di Jawa Tengah terus menurun. Bahkan, secara persentase, penurunan jauh lebih tinggi dari rata-rata penurunan seluruh Provinsi di Indonesia,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, Margo Yuwono, kemarin.

Namun demikian, ucapnya, persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

“Kalau melihat kedalamannya, kemiskinan di Jawa Tengah lebih tinggi dari rata-rata Provinsi di Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah perlu usaha yang lebih besar dari Provinsi lain untuk dapat menanggulangi kemiskinan. Tapi ini juga suatu pencapaian yang baik, dimana dengan kedalaman yang lebih tinggi namun tren penurunan juga bisa lebih tinggi dari Provinsi lain,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama periode Maret – September 2017 ini, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 73,51 ribu orang. Yaitu dari 1,89 juta orang pada Maret 2017 menjadi 1,82 juta orang pada Semptember 2017. Begitu pula di daerah pedesaan yang mengalami penurunan sebanyak 179,71 ribu orang. Yaitu dari 2,56 juta orang pada Maret 2017 menjadi 2,38 juta orang pada September 2017.

Hal ini menurutnya juga menjadi tantangan lain, dimana keparahan variasi antara penduduk miskin, khususnya di pedesaan juga masih cukup tinggi. Semakin tinggi varian, maka program-program yang diterapkan tidak boleh homogen.

“Dua hal tersebut menjadi tantangan. Yaitu Pemerintah harus bekerja lebih keras dan mengadakan program-program yang lebih spesifik untuk menanggulangi kemiskinan di Jawa Tengah, utamanya yang ada di pedesaan, karena tingkat keparahan di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan,” ujarnya. (dna/bas)