AKAN DITUTUP: Salah satu gang di kawasan Lokalisasi Sunan Kuning. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKAN DITUTUP: Salah satu gang di kawasan Lokalisasi Sunan Kuning. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Penghuni resosialisasi Gambilangu (GBL) Kaliwungu Kendal dan Rowosari Kecamatan Tugu, Semarang, minta pemerintah pertimbangkan ulang penutupan resosialisasi Argorejo atau yang dikenal dengan lokalisasi Sunan Kuning (SK). Mereka khawatir para penghuni justru akan kembali ke jalan-jalan.

”Kalau ada resosialisasi kan bisa terpusat dan bisa dikendalikan. Bisa dibayangkan kalau misal banyak yang di jalan-jalan seperti sebelum ada resos,” jelas Bunga, salah satu penghuni Resos Rowosari.

Kabar akan ditutupnya lokalisasi Sunan Kuning sempat membuat penghuni resos ini resah. Tak terkecuali ketua resosialisasi Gambilangu, Kasmadi Suparto. Dirinya mengaku dilema dan belum bisa memikirkan apa yang akan dilakukan jika memang benar-benar SK akan segera ditutup.

Dirinya menilai, keberadaan resosialisasi sebenarnya cukup membantu dalam mengatasi persebaran penyakit seksual. Sebab, para Pemandu Karaoke (PK) atau Pemandu Lagu (PL) secara berkala dilakukan pemeriksaan kesehatan. Selain itu, mereka juga diberikan pembinaan untuk dapat mencagah terjadinya penularan penyakit HIV/ AIDS.

”Selain pemeriksaan kesehatan dan pembinaan, juga ada olahraga dan kegiatan lainnya. Harus ada solusi agar tidak muncul masalah baru lagi jika resos ini ditutup,” harapnya.

Menurutnya, Resosialisasi Gambilangu sendiri, sudah berhasil mengentaskan sejumlah anak asuh dengan memberikan pelatihan dan bekal usaha. Sejak tahun 2003, penghuni resosialisasi ini dinilainya sudah semakin berkurang dengan diberikan pelatihan usaha.

”Dulu sekitar 260an. Tapi sekarang jumlahnya tidak mencapai 200. Saya takutnya kalau ditutup akan terjadi ledakan pengangguran,” tandasnya. (sga/zal)