TAK LAIK JALAN: Armada BRT Trans Semarang saat dilakukan uji emisi di shelter Jalan Pemuda, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK LAIK JALAN: Armada BRT Trans Semarang saat dilakukan uji emisi di shelter Jalan Pemuda, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG  Sebanyak enam Bus Rapid Transit (BRT) terjaring operasi dan dinyatakan tak laik. Di antaranya, menggunakan ban vulkanisir, dan kepekatan asap hitam di atas rata-rata. Bahkan ditemui, satu sopir BRT tidak membawa Surat Izin Mengemudi (SIM). Hal itu diketahui saat Kepala Badan Layanan Umum (BLU)  Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD)  BRT Trans Semarang, Ade Bhakti, melakukan inspeksi mendadak (sidak) uji emisi bus BRT di shelter Jalan Pemuda, Rabu (3/12).

“Kami cek ternyata masih ada BRT yang menggunakan ban vulkanisir, yakni dipakai untuk roda di belakang bagian dalam. Armada yang bersangkutan sudah kami kembalikan ke poll untuk segera diganti,” kata Ade.

“Bahkan kami menemukan satu armada BRT yang sopirnya tidak membawa SIM. Alasanya kelupaan. Kami bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk melakukan tilang armada tersebut,” tambahnya.

Kegiatan sidak kali ini, lanjut Ade, menyasar tiga hal, yakni uji emisi kendaraan sesuai Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2006, kelengkapan surat-surat seperti SIM, STNK, Kartu Pengawas Trayek, Buku Uji KIR dan kualitas roda kendaraan.

Ade mengakui, evaluasi hingga akhir 2017, masih banyak keluhan mengenai BRT. Total ada sebanyak 653 keluhan dari masyarakat. Dari 653 keluhan tersebut, tiga posisi teratas didominasi keluhan tentang pelayanan sopir sebanyak 142 keluhan. Berikutnya keluhan tentang armada tidak merapat ke shelter sebanyak 129 keluhan.

“Keluhan ranking tiga adalah mengenai petugas tiket kami yang galak, judes dan lain-lain sebanyak 100 keluhan, 90 orang mengeluhkan tentang kondisi armada BRT, baik dari kualitas dinginnya AC, pintu hidrolis macet, emisi gas buang,” katanya.