Di Lereng Merapi, Jadi Sekolah Siaga Bencana

362

RADARSEMARANG.COM, SLEMAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyiapkan 46 sekolah siaga bencana. Tujuannya, membekali para guru dan siswa-siswi ilmu mitigasi. Harapannya, jika sewaktu-waktu terjadi bencana, mereka siap menghadapi agar tidak mengganggu aktivitas belajar-mengajar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyampaikan, sekolah siaga bencana ikut disiagakan untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di Sleman. Sebab, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan terjadi hingga Januari. Selain itu, BPBD juga menyiagakan 51 komunitas relawan yang beranggotakan hampir 2.000 orang.

Sekolah yang dikonsep siaga bencana, sebagian besar berada di daerah lereng Merapi. Seperti Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan. Alasannya, kawasan tersebut rawan dampak erupsi Merapi. Sekolah siaga bencana juga tersebar di Kecamatan Mlati, dengan karakteristik rawan angin kencang dan Kecamatan Berbah, sebagai daerah rawan gempa bumi.

Program sekolah siaga bencana, para siswa, guru, dan wali murid, diajari berbagai hal terkait mitigasi. Seperti cara membaca papan petunjuk evakuasi dan titik kumpul, serta pembuatan denah jalur evakuasi. “Penyampaian materi tidak harus dengan cara membuat kurikulum baru, tapi disisipkan ke mata pelajaran yang sudah ada.”

Latar belakang pembentukan sekolah siaga, karena Sleman masuk dalam salah satu daerah rawan bencana dari 136 kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pemetaan, ada tujuh ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Sleman. Yaitu, erupsi gunung api, banjir, longsor, puting beliung, gempa bumi, kebakaran, dan kekeringan.

Kepala SDN Kloposawit Turi, Cahyani Hasriati menilai, pelaksanaan kegiatan sekolah siaga bencana, mendapatkan respons baik. Tidak hanya oleh siswa maupun guru, tapi juga komite wali murid. Dikatakan, pembelajaran mitigasi bencana sudah dikenalkan sejak 2015. Termasuk, tentang keterampilan pertolongan pertama pada kecelakaan. (jpg/isk)