Desa Gebugan Sentra Cengkeh

Desa Gebugan, Kecamatan Bergas

1109
TOPANG PEREKONOMIAN: Pekarangan rumah warga di Dusun Lempuyangan terdapat tanaman cengkeh. Tanaman tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian warga. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOPANG PEREKONOMIAN: Pekarangan rumah warga di Dusun Lempuyangan terdapat tanaman cengkeh. Tanaman tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian warga. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Tanaman cengkeh hingga kini masih menjadi penopang perekonomian masyarakat Desa Gebudan, Kecamatan Bergas. Kualitas yang baik, membuat cengkeh dari desa tersebut banyak dilirik oleh perusahaan-perusahaan kaliber nasional.

Kades Gebugan, Digdo Cahyono mengungkapkan penanaman cengkeh oleh warga setempat sudah dilakukan sejak 1970. Sejak saat itu, penanaman cengkeh mulai masif dilakukan oleh warga setempat. “Kita memiliki keuntungan yaitu kontur tanah, kualitas tanah, dan suhu,” kata Digdo, Selasa (2/1).

Digdo Cahyono
Digdo Cahyono

Bahkan, karena memiliki kualitas yang baik cengkeh dari desa tersebut kerap menyabet juara pertama tingkat Provinsi Jawa Tengah. Alhasil, kondisi tersebut menbuat masyarakat setempat menjadi makmur.

Saat ini, penanaman cengkeh masih dilakukan di dua dusun saja, yaitu Dusun Bengkle dan Lempuyangan. Kedua dusun tersebut memiliki kualitas tanah dan suhu yang mendukung untuk tumbuhnya cengkeh.

“Namun untuk kualitas yang kerap kita lombakan itu cengkeh dari Dusun Lempuyangan,” katanya. Dusun Lempuyangan merupakan wilayah Desa Gebugan yang terletak paling atas, di kaki Gunung Ungaran.

Kondisi geografis tersebut membuat tanaman cengkeh mudah tumbuh subur. Tanaman cengkeh sudah menjadi sandaran hidup masarakat setempat. Hampir tidak ada lahan yang tidak tertanam pohon cengkeh. Baik itu di lahan kebun maupun di pekarangan rumah-rumah warga.

Hampir 80 persen warga di dua dusun tersebut kini sudah menanam cengkeh. Hal itu juga menyedot banyak pekerja dari masyarakat dusun lain. Untuk warga yang tidak memiliki pohon cengkeh, mereka bertugas untuk memetik cengkeh.

Untuk satu hari satu orang pemetik cengkeh mendapatkan bayaran Rp 100 ribu. “Untuk tingkat kemiskinan di Dusun Lempuyangan jalan. Sama Desa Bengkle itu juga hampir tidak ada yang miskin, karena pendapatan perkapita sangat tinggi dari hasil cengkeh,” katanya.

Cengkeh tersebut dipanen setiap satu tahun sekali. Untuk satu kali panen saja, rata-rata satu orang warga mendapatkan 1 ton cengkeh. Cengkeh tersebut kemudian diambil oleh pengepul, lalu disetorkan ke beberapa perusahaan yang selama ini sudah kerjasama.

“Hasilnya sangat besar. Sudah banyak warga di dua dusun tersebut yang naik Haji dari hasil cengkeh mereka,” katanya. Meski usaha cengkeh masih dimiliki oleh perorangan namun mereka diwadahi dalam sebuah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cengkeh. (ewb/zal)