33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Warung Makan Khas Dibanjiri Pengunjung

Libur Akhir Tahun

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Libur pergantian tahun, menjadi berkah bagi beberapa warung makan khas di Kabupaten Semarang. Pasalnya saat libur pergantian tahun, dibanjiri pengunjung. Seperti halnya warung makan Mbak Toen yang berada di Kecamatan Banyubiru. Warung makan yang menyajikan kuliner khas daerah setempat yaitu pecel keong sudah dibanjiri pengunjung sejak Minggu pagi (31/12) kemarin.

Menurut pemilik warung, Romjatoen, 57, mengakui jika kedatangan pengunjung lantaran rasa penasaran bagaimana rasa pecel keong yang ada di warungnya. Di atas lahan sekitar 300 meter persegi tersebut warung berdiri. Lokasi tepatnya yaitu persis di depan Pemandian Muncul, Kecamatan Banyubiru. “Sudah belasan tahun warung ini berdiri, dari dulu ya yang dicari pecel keongnya,” ujarnya.

Selain pecel keong, lanjutnya, menu spesial lain yang ditawarkan yaitu pecel belut maupun kolak ketan. Kemudian soal harga sangat terjangkau. Namun untuk memesan harus antre dan sabar menunggu giliran. Bagi pecinta kuliner yang belum pernah mencobanya, ketika datang langsung mencari tempat duduk yang kosong.

Dikatakannya, satu hari rata-rata menghabiskan 25 kilo gram keong. Ia yang dulunya hanya berjualan di bawah pohon munggur depan Pemandian Muncul, kemudian pindah di seberang jalan yaitu lokasinya yang sekarang. “Dari dulu menu spesialnya pecel keong,” katanya.

Beberapa pengunjung mengaku jika baru pertama kali mencoba pecel keong khas Kecamatan Banyubiru tersebut. salah satu pengunjung yaitu Eko Sus, 43. Menurut warga Kota Solo tersebut, ia baru pertama kali mencoba pecel keong khas Banyubiru. “Baru sekali datang ke sini. Belum tahu, terus duduk menunggu dan pesan sama yang melayani dibilang antre dulu. Kami disarankan untuk menuliskan menu di meja kasir,” kata Eko Sus.

Untuk pecel yang ada di Warung Makan ‘Mbak Toen’ hampir sama dengan pecel pada umumnya. Hanya saja ada tambahan masakan keong. “Awalnya saya berpikir keongnya berupa sate, ternyata masakan keong. Soal rasa oke juga,” ujar pria berambut putih ini.

Satu porsi pecel keong Rp 10 ribu, pecel belut Rp 20 ribu dan kolak ketan Rp 5 ribu. Selain itu, menjajakan berbagai rempeyek baik peyek kacang, wader maupun lainnya. Hal serupa juga terjadi di warung makan Tanto Tanti di Desa Kenteng Kecamatan Bandungan.

Warung makan yang menyajikan kuliner khas bandungan yaitu olahan daging kelinci juga dibanjiri pengunjung saat libur pergantian tahun. Pemilik warung, Tanti, 38, mengungkapkan daging kelinci yang ia jual diolah menjadi berbagai macam masakan. Mulai dari sate hingga rica-rica.

Saat libur pergantihan ini ia bisa menghabiskan 500 tusuk sate kelinci dalam sehari. “Kalau pada hari-hari biasanya hanya 50 sampai 100 tusuk,” ujar Tanti. Selain dari penjualan sate kelinci, pemasukan yang lain juga dari penjualan rica-rica daging kelinci. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Hendi Ingin ‘Hompimpa’ Terdengar di Taman-Taman

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Komitmen Kota Semarang sebagai Kota Layak Anak terus dibuktikan. Salah satunya Kota Semarag akan menyelesaikan 16 taman dan tujuh lapangan olahraga di tahun...

Rp 110 Miliar untuk 50 Embung

SEMARANG - Pemprov Jateng terus melakukan berbagai upaya dan inovasi guna menyukseskan program 1.000 embung. Pada 2017, pemprov berencana membangun 50 embung dengan anggaran...

Diduga Ada Maladministrasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kisruh input data dalam pengumuman perekrutan pegawai Non Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, patut diduga terjadi...

Sempatkan Travelling Bareng Keluarga

RADARSEMARANG.COM - DI sela kesibukannya memimpin beberapa perusahaan yang dimiliki, Endro mengaku tetap memprioritaskan keluarga. “Keluarga tetap prioritas walaupun harus bolak-balik ke luar kota,” kata...

Rp 26 M untuk Blok B dan C

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Pembangunan Blok B dan C Pasar Kedungwuni, secara resmi dimulai Kamis (12/7) kemarin. Pembangunan ditandai dengan Peletakan Batu Pertama oleh Bupati...

Masakan Diolah Dengan Cara Sehat

Selain menyuguhkan rasa yang begitu lezat, Tjhiang juga menjamin olahan makanannya sehat. Cara masaknya juga tidak digoreng, dibakar, atau di panggang tapi direbus pakai...