Titik Cerah Film Festival Indonesia

496
THOMAS BARKER, PENGAMAT PERFILMAN INDONESIA
THOMAS BARKER, PENGAMAT PERFILMAN INDONESIA

RADARSEMARANG.COM, PRESTASI dunia perfilman Indonesia nggak berhenti pada 2017. Sebab, bendera perfilman Indonesia tengah berkibar di jagat sinema dunia. Kini film layar lebar kian beragam. Nama-nama yang dulu hanya dikenal di festival independen justru mulai banyak menyita publik. Tim Zetizen pun mengonfirmasi hal tersebut kepada Thomas Barker, pemerhati sinema Indonesia asal Australia. (rno/c25/dhs)

Kembalinya Nama-Nama Lama

Dikenal sebagai sutradara brilian, nama Edwin berhasil muncul lagi lewat film Posesif (2017). Selain itu, ada nama Mouly Surya yang membawa film Marlina si Pembunuh menjadi film panjang pertama Indonesia yang lolos Cannes Film Festival ke layar bioskop. Kemudian nama Yosep Anggi Noen yang menghadirkan kembali sosok Wiji Thukul, pada Istirahatlah Kata-Kata.

Langkah tersebut membuat peluang film festival pada 2018 untuk tayang ke layar lebar semakin terbuka lebar. ”Jangan berpikir kualitas adalah masalah. Yang menarik di sini, bagaimana membuat orang mau menonton film dari sutradara festival lokal. Promosi adalah kunci karena nggak ada gunanya membuat film hebat kalau nggak ada yang menonton,” ujar Thomas yang juga asisten profesor Queensland University Australia.

Membaiknya Ekosistem Perfilman

Nggak hanya bergantung pada sutradara, kiprah perfilman tanah air juga mengantungkan nasib pada kritikus serta produser film itu sendiri. Nggak heran jika hari ini kualitas film-film festival nggak lagi dapat dipandang sebelah mata.

”Saya pikir ekosistem film independen sekarang cukup stabil. Pada 1998 film-film indie cenderung berbicara soal anti pemerintahan. Hal itu berbeda dengan sekarang yang lebih matang dan berhasil menciptakan ekosistem sendiri. Bisa dilihat dengan kemunculan Yosep Anggi, Ismail Basbeth, dan Garin Nugroho,” ungkap pria pengagum film Setan Jawa karya Garin Nugroho tersebut.

Hadir dengan Keragaman Baru

Dominasi film horor dengan bumbu erotis sempat menjadi kekhawatiran berhentinya ide penceritaan Indonesia. Keseragaman narasi yang ditawarkan film-film arus utama berhasil dipatahkan lewat cerita-cerita segar yang ditawarkan film independen. Tak heran bila Pengabdi Setan karya Joko Anwar berhasil memecahkan rekor film horor dengan penonton terbanyak.

”2018 menjadi tahun yang menarik. Saya menunggu film Joko Anwar dengan karya barunya serta film dari Mouly Surya setelah Marlina. Dan satu yang menarik perhatian saya adalah Wiro Sableng 212 oleh Angga Dwimas Sasongko. Film itu menjadi penanda bahwa film bela diri ala Indonesia telah kembali,” ungkap Thomas.