KERAJINAN KELUARGA: Indah, warga Desa Plumutan tengah menganyam piring dari bahan lidi kelapa. (kanan) Salah satu produk inovasi berupa tempat bolpoin. (FOTO-FOTO: SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KERAJINAN KELUARGA: Indah, warga Desa Plumutan tengah menganyam piring dari bahan lidi kelapa. (kanan) Salah satu produk inovasi berupa tempat bolpoin. (FOTO-FOTO: SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Ketika bertandang ke sejumlah rumah makan, biasanya akan dijumpai piring yang terbuat dari anyaman lidi. Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang adalah salah satu yang menjadi pemasok piring jenis ini ke sejumlah kota di Indonesia.

SIGIT ANDRIANTO

TUMPUKAN lidi membuat rumah Indah, salah satu warga Desa Plumutan, nampak sedikit berantakan. Bukan sapu lidi yang lepas dari ikatannya, namun lidi-lidi ini adalah bahan untuk membuat sejumlah produk anyaman, seperti piring, tempat bumbu, dan sejumlah produk rumah tangga lainnya.

Bisa dibilang, lidi-lidi ini merupakan sumber pendapatan bagi Indah dan sejumlah warga lainnya di Desa Plumutan. Ya, hampir 90 persen warga Desa Plumutan membuat produk yang dikirim ke sejumlah kota, seperti Jogja, Bandung, Jakarta bahkan ke Pulau Bali. Tidak menutup  kemungkinan dari kota-kota tersebut, produk ini kembali dikirim ke luar negeri.

“Sekali kirim ada sekitar 10 ribu biji rogo-rege yang dikumpulkan dari seluruh warga desa,” ujar Indah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ditemui di rumahnya yang masih setengah jadi, Indah tampak sibuk menganyam piring. Ditemani sang buah hati yang belum genap lima tahun, dirinya menceritakan bahwa hampir setiap rumah di desa ini penghuninya membuat produk yang dikenal dengan nama rogo-rege ini. Sebab, pesanan untuk produk ini semakin meningkat. Bahkan, untuk mencukupi bahan, desa ini harus mendatangkan lidi kelapa dari Bandung.

“Satu truk lidi bisa habis dalam waktu seminggu. Karena semakin ke sini, memang semakin banyak pesanan. Jadi, ya tidak heran jika semakin banyak yang membuat produk ini,” kata dia sambil tangannya tidak berhenti menganyam lidi. Ia tampak sangat terampil dilihat dari caranya menganyam sembari bercerita.

Memang benar, bisa disaksikan dari jalan, hampir semua rumah di desa ini terdapat tumpukan lidi dan sejumlah piring yang sudah jadi. Bahkan, tidak hanya di rumah, sejumlah ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya di sekolah juga tampak sibuk membuat piring dari anyaman lidi kelapa ini.