Sedih, Bangunan Cagar Budaya Dicat Warna-Warni

564

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Gedung eks Van Dorp di Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Semarang belakangan ini menjadi kontroversi yang ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, bekas gedung tua tersebut dicat warna-warni dan disulap menjadi museum 3D (tiga dimensi) bernama Dream Museum Zone (DMZ) Semarang. Cat warna-warni ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa gedung eks Van Dorp tersebut dinilai tidak memiliki nilai sejarah. Hal tersebut langsung menuai kontroversi.

Seorang arsitek senior di Semarang, Satrio Nugroho, saat dimintai pendapat mengenai permasalahan tersebut mengungkapkan kesedihannya. “Saya melihat dari sudut pandang arsitek, bangunan (Van Dorp) warna-warni di Kota Lama itu menjadi kehilangan unity,” kata Satrio kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (30/12).

Kota Lama telah menjadi kawasan cagar budaya. Kalau berbicara ‘kawasan,’ jelas dia, tentu saja bukan hanya berbicara gedung per gedung. Kawasan Cagar Budaya Kota Lama itu sendiri telah diatur di dalam Perda Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003.

“Bangunan itu memiliki nilai sejarah. Bahkan sejarahnya wartawan di Semarang ada di situ. Saya pikir akan lebih elegan dengan bangunan yang tetap menjaga keaslian. Fungsinya monggo mau dibikin apapun oke,” ujarnya.

Hal yang tampak saat ini, menurutnya, tidak pas dan tidak sesuai. Sebab, unity fasad bangunan eks Van Dorp tersebut terkesan aneh dan menonjol. Tidak disesuaikan dengan bangunan Kota Lama. “Tetapi problem paling berat itu sebetulnya mengenai Perda yang sudah dibuat oleh Pemkot Semarang justru malah ditabrak sendiri. Problemnya ada di sana. Sebetulnya bangunan aslinya sudah seksi banget. Cuma cara menanganinya saja. Pihak investor harusnya juga lebih arif (bijaksana). Kalau dibikin seperti itu, jadinya malah kayak bangunan ecek-ecek itu,” katanya.

Dijelaskan, cat warna-warni bukan menjadi hal yang dilarang. Tetapi, cat warna-warni itu ketika diterapkan di bangunan kawasan cagar budaya, apalagi di jalan utama, mestinya menyesuaikan dengan bangunan di sana. “Tidak harus warnanya putih nyemplak juga nggak. Tapi dibikin yang elegan. Sehingga ketika orang di Kota Lama terasa cirinya begini lho. Memang banyak di kota-kota dunia yang warna-warni dan dapat penghargaan dari world heritage, karena memang sejarahnya seperti itu. Di Malaka juga ada warna-warni, karena memang ada sejarahnya kenapa warna merah,” ungkapnya.