Stok Obat Difteri ADS di Jateng Tinggal 58 Ribu

475
STOK TERBATAS: Kasi Surveiland dan Imunisasi Dinas Kehesatan Jateng, Subur Hadi Marhaento, saat menunjukkan obat ADS di kantornya, kemarin. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADRA SEMARANG)
STOK TERBATAS: Kasi Surveiland dan Imunisasi Dinas Kehesatan Jateng, Subur Hadi Marhaento, saat menunjukkan obat ADS di kantornya, kemarin. (NUR WAHIDI/JAWA POS RADRA SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Stok Antitoksin Difteri (ADS) untuk penderia difteri di Jateng tinggal 58 vial (tabung) atau 58 ribu. ADS adalah serum untuk menangkal penyebaran virus difteri di dalam tubuh.

“Jumlah itu sudah sangat cukup, jadi nggak perlu khawatir,” ungkap Kasi Surveiland dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Subur Hadi Marhaento kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Subur mengatakan, pada 2017 ini, kasus difteri di Jateng tercatat 10 orang positif, tersebar di beberapa kota dan kabupaten, seperti Kendal, Kota Semarang, Karanganyar, Banyumas, dan Batang. “Jadi, Jateng itu Outbreak Response Immunization (ORI), belum sampai Kejadian Luar Biasa (KLB),” katanya.

Dijelaskan, yang menyebabkan Jateng tidak KLB, karena cakupan imunisasi itu cukup, dan difteri bisa dicegah melalui imunisasi. Indikator cakupan imunisasi adalah Universal Child Immunization (UCI), di mana satu tahun bayi sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap termasuk DPT dan difteri. Di Jateng mencapai 99,67 persen.

“Hanya tinggal 4 desa yang belum mencapai UCI, yakni desa di Kabupaten Wonosobo, Karanganyar, Temanggung, dan Sukoharjo,”ujarnya.

Sedangkan untuk kendala, diakui, masih ada warga yang menolak dilakukan imunisasi. Alasannya, karena takut, khawatir malah sakit, dan juga lantaran kurang penyuluhan.  “Tetapi secara bertahap, akhirnya bersedia diimunisasi,” katanya.

Subur menambahkan, kasus difteri terakhir menimpa Adzkiya Raisya Putri Setya, 4, warga Griya Satria Indah, Purwokerto, Banyumas. Keluarga Raizya sempat mengambil ADS ke kantor Dinkes Jateng kemarin. “Kami akan memberikan ADS setelah mendapatkan rekomendasi dari dr Hapsari,”jelasnya.

Karena keterbatasan ADS dari pusat, Jateng mempunyai kebijakan distribusi ke kabupaten/kota dan ke penderita setelah mendapat rekomendasi dari tim ahli difteri. Untuk pasien anak-anak dr Hapsari SpA, sedangkan pasien dewasa kepada dr Mukhlis Spd.  “Tanpa rekomendasi kedua dokter ahli itu, kami tidak berani memberikan ADS,” katanya.

Untuk prosedurnya, jelas dia, misalnya dari RS rujukan, seperti RS Muwardi Solo, RS Margono Purwokerto, dan RSUP dr Kariadi. Kalau tidak sampai ke rumah sakit rujukan itu bukan difteri. “Sehingga untuk pemberian ADS, dokter spesialis anak yang merawat harus konsultasi dengan dokter ahli. Setelah konsultasi itu, lalu diberi ADS berarti Dinas Kesehatan kabupaten/kota harus membuat permintaan dengan rekom tim ahli,” imbuhnya.(hid/aro)