Kampanye Antikekerasan Lewat Poster

1799
KREATIF : Pelajar Kota Magelang mengikuti lomba poster di Gedung Wanita, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KREATIF : Pelajar Kota Magelang mengikuti lomba poster di Gedung Wanita, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Para pelajar Kota Magelang antusias mengikuti lomba poster dan gerak lagu 3 Ends–yang merupakan jingle lagu untuk mengkampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kegiatan ini masih satu rangkaian kunjungan media trip bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), di Gedung Wanita, Jumat (29/12.

Seksi acara, Budi Santoso mengatakan, kegiatan ini sebagai langkah pemantapan pelaksanaan Kota Layak Anak (KLA) di Kota Magelang. Kata dia, pelajar diajak terlibat dalam menyuarakan hak-hak perempuan dan anak melalui sebuah gambar.

Ada tiga tema yang ditentukan untuk tiap jenjang pendidikan. Tema kategori lomba poster jenjang SD “Cita-citaku di Kota Layak Anak” ; SMP “Berjuang Bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”; dan SMA “3 Ends”. Jumlah peserta jenjang SD ada 25 anak, 19 pelajar SMP, serta 12 pelajar SMA.

“Tiap sekolah mengirimkan dua anak,” kata Budi, kemarin.

Sementara itu, salah satu juri lomba poster, Novo Indarto mengaku terkejut dengan hasil gambar poster yang dibuat peserta. Ia melihat teknik yang digunakan, komposisi warna, dan kreativitas peserta sangat tinggi.

“Hasilnya bagus-bagus di luar yang kami bayangkan. Tentunya akan sulit menentukan pemenangnya,” akunya.

Namun demikian, pria yang aktif di komunitas seni ini tetap berpedoman pada kriteria penilaian. Yakni, kesesuaian dengan tema dan teknik pewarnaan. Serta memanfaatkan waktu dengan baik, sekitar 100 menit.

“Kalau nggak sesuai tema, tentunya kita diskualifikasi,” ungkapnya.

Terlebih, jika diketahui ada peserta yang berbuat curang dengan membawa karya dari rumah, dan di lokasi hanya mewarnai saja. “Dulu ada yang ikut lomba bawa temannya yang pinter mewarnai, lalu memandu ini harus warna apa, itu warna apa. Tapi ketahuan. Nah yang sekarang ini tertib, kita inspeksi terus dan tidak ada yang seperti itu (curang, Red),” tambahnya.

Ia berharap, pemerintah setempah makin mengintensifkan kegiatan seni seperti ini. Dari pengamatannya, banyak bibit-bibit pelukis. Selain itu, menggambar dan mewarnai sebagai ajang penyaluran energi positif pada diri seseorang.

“Selain menggambar, mereka harus menghayati dengan ajakannya melalui poster ini. Mudah-mudahan bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari.”

Lanjut Novo, dengan kemudahan akses informasi dan kemajuan teknologi, ia ingin para peserta atau anggota keluarganya ikut mempublikasikan hasil karya tersebut ke media sosial (medsos). Agar kampanye dan pesan-pesan yang disampaikan itu meluas.

“Akan banyak yang melihat karya itu di medsos. Pesan itu semakin luas tersampaikan,” jelasnya. (put/lis)