GENG SADIS: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji saat menginterogasi Ketua Geng Camp TT 136, Johan Ardian. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
GENG SADIS: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji saat menginterogasi Ketua Geng Camp TT 136, Johan Ardian. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG  Dulu ada Geng Cokor. Kini, ada Geng Camp TT 136. Camp merupakan sebutan untuk kelompok remaja berandal di Kota Semarang. Sedangkan TT singkatan dari Tanda Tanya (?). Ini sesuai dengan bentuk senjata tajam yang selalu mereka gunakan, yakni celurit.

Geng Camp TT 136 beranggotakan belasan remaja yang cukup meresahkan warga. Mereka dikenal sadis, bahkan tak segan  melukai korbannya. Kejadian terakhir, dua korbannya menderita luka di dada, dan jari tangan putus akibat sabetan sajam ketua geng ini.

Namun kini sepak terjang Geng Camp TT 136 berakhir. Ini setelah aparat Polrestabes Semarang berhasil membekuk ketua geng sadis ini, yakni DJN alias Johan Ardian, 17, warga Banowati Selatan, Semarang Utara bersama teman-temannya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji menjelaskan, penangkapan Johan Cs dilakukan pasca terjadi aksi pengeroyokan yang dilakukan Geng Camp TT 136 pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 22.00 lalu di sekitar jembatan tol Manyaran, Semarang Barat. Saat itu, Johan dan teman-temannya mengeroyok korban Ananda Fajar Pratama, 17, yang melintas di jalan tersebut. Bahkan, Johan sempat melayangkan celuritnya ke arah korban. Akibatnya, dada kanan korban terluka sepanjang 15 sentimeter dan jari telunjuk kanannya putus.

Kejadian itu langsung dilaporkan keluarga korban ke Polrestabes Semarang. Begitu mendapat laporan, Tim Resmob Satuan Reskrim Polrestabes Semarang yang dipimpin Kasubnit I Aiptu Janadi memburu para pelaku. Berdasarkan ciri-ciri pelaku yang disebutkan korban, pada Rabu (27/12) sekitar pukul 21.00, Johan dan teman-temannya berhasil dibekuk.

“Dari hasil perburuan, kami amankan 13 orang. Semuanya laki-laki dengan peran masing-masing. Mereka sudah sangat meresahkan warga. Saat ini, korban geng ini masih dalam perawatan di rumah sakit,” jelas Abi saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Jumat (29/12).

Ke-13 pelaku pengeroyokan itu rata-rata berusia 16 -17 tahun. Bahkan, ada yang masih duduk di bangku SMP.  Ada juga yang sudah putus sekolah. Sedangkan yang berusia paling tua, berperan sebagai penyimpan senjata tajam. “Saat ini, para pelaku dititipkan di Polsek Semarang Barat. Saat diperiksa, mereka mengaku sudah punya rencana mau bikin rusuh saat tahun baru nanti,” ujarnya.

Tersangka Johan mengaku, tidak punya dendam ataupun masalah dengan korban yang dilukainya. Ia dan anggota gengnya memang hanya ingin mencari keributan agar ditakuti oleh camp lainnya.

“Ribut aja, nggak tahu apa yang diributkan. Pamer kekuatan. Waktu itu habis minum congyang,” katanya sambil tertunduk.

Sebelum memimpin geng, Johan seharusnya masih duduk di bangku SMP kelas VIII. Namun ia memilih drop out akibat kenakalannya. Sedangkan untuk membeli senjata tajam, Johan mengaku patungan (iuran) bersama teman-temannya. Ia membeli secara online.

“Belinya patungan, celurit yang besar itu dibeli Rp 500 ribu, saya lihat di Instagram,” ucapnya.

Johan mengatakan, dirinya telah menjalankan geng tersebut hampir satu tahun. Sebelum melakukan tawuran, lanjut dia, geng yang diketuainya bisa berkomunikasi dengan geng lain lewat pesan singkat SMS/WA dan media sosial (medsos). Beberapa aksinya pun sempat direkam dan di-upload di akun Instagram, @camp_tandatanya136.

Menurut Johan, anggota gengnya mencapai 30 orang, dan hampir semuanya usia remaja. Untuk bergabung, tidak ada persyaratan khusus. Namun ia dengan tegas mengatakan bahwa anggota Camp TT 136 tidak boleh berkhianat. Atas penangkapan ini, Johan mengaku menyesali perbuatannya, dan berjanji di hadapan kapolresatbes untuk membubarkan geng tersebut. “Saya kapok Pak. Camp TT 136 bubar Pak,” katanya menyesal.

Salah satu orangtua anggota geng, Rumanto, mengaku tidak menyangka anaknya terlibat dalam tindak kekerasan yang meresahkan warga. Menurutnya, selama ini anaknya berperilaku baik ketika di rumah. “Ya pasti marah, kecewa, biar dibina sama polisi. Setelah ini, tidak akan saya fasilitasi motor dan handphone lagi. Biar jera dia,” ujarnya.

Selain menangkap anggota geng Camp TT 136, petugas juga menyita tiga sajam celurit, sejumlah besi pagar, beberapa telepon selular, dan kendaraan pelaku. Saat ini, kelompok geng ini masih dilakukan pemeriksaan. Mereka akan dijerat pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman penjara selama 7 tahun. (tsa/aro)