BERI KETERANGAN : Sidang pemeriksaan enam saksi kasus Perhutani Jateng di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI KETERANGAN : Sidang pemeriksaan enam saksi kasus Perhutani Jateng di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Enam saksi kasus dugaan korupsi pengadaan pupuk urea tablet Perhutani Jateng, diperiksa atas perkara yang menjerat tiga terdakwa yakni, mantan Kepala Perhutani Jateng; Heru Siswanto, mantan Direktur Utama PT Berdikari; Asep Sudrajat Sanusi, dan mantan Kepala Biro Pembinaan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani; Bambang Wuryanto di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (28/12).

Adapun enam saksi yang diperiksa diantaranya, Kabiro Keuangan Divre Jatim atau mantan Kabiro SDM dan Umum Perhutani Jateng; Wahyu Agus Setiyono, mantan Wakil Kepala Unit Perhutani; Bambang Budhiarto, mantan Kasubsi Pengadaan Seksi Teknik dan Perlengkapan Biro SDA dan Umum; Agus Margiyono, Suripto dan Supriyono. Satu saksi lainnya, General Manager PDGT Semarang; Gunawan Marga Widada.

Keenamnya merupakan, panitia pengadaan pupuk urea tablet pada Perhutani Unit 1 Jateng tahun 2010 sampai 2011. Keenamnya juga mengaku terlibat memuluskan PT Berdikari (Persero) sebagai rekanan pengadaan, adapun perannya menyiapkan sejumlah dokumen kelengkapan adminitrasi agar PT Berdikari bisa menjadi penyedia barang. Hal itu dilakukan untuk sekedar memenuhi persyaratan formil seolah-olah sudah diadakan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

“Kami hanya diperintah. Itu kamu lakukan karena diperintah Pak Bambang Wuryanto. PT Berdikari sudah disiapkan sebagai pelaksana kegiatan. Ada beberapa dokumen yang fiktif, seperti HPS, surat penawaran, RKS,” kata saksi Wahyu Agus yang saat itu menjabat sekretaris pengadaan.

Sama halnya dengan saksi, Bambang Budhiarto selaku Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa mengaku bersama Wahyu Agus meminta Gunawan Widada dan Agus Margiyono membuat kelengkapan administrasi pengadaan secara formalitas. Beberapa diantaranya, Surat Kepala Unit I perihal Pengadaan Pupuk Anorganik kepada PT Pupuk Kujang, yang berisi ajakan kerjasama.

Kemudian, Surat Direktur Keuangan PT Pupuk Kujang perihal Dukungan Pasokan Urea kepada PT Berdikari. Surat Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa tentang sinergitas antar BUMN, Surat Ketua Panitia Pengadaan perihal Permintaan Penawaran kepada PT Mitra Swadiri Sejahtera.

Diakuinya, setelah kelengkapan administrasi terpenuhi, Berdikari yang ditunjuk sebagai rekanan bersama Perhutani menggelar perjanjian disusul surat pengadaan yang ditujukan kepada 18 Kesatuan Pemangku Hutan (KPH).

“Melalui surat tersebut, disampaikan metode pengadaan pupuk yang dilakukan oleh KPH dapat menunjuk langsung atau order pembelian langsung ke PT Berdikari sesuai SK dengan acuan harga sesuai perjanjian,” kata saksi.

Saksi juga mengakui pernah menerima pemberian uang fee dari Bambang Wuryanto. Adapun besaran uang yang ia terima mulai Rp 1 juta. Hanya saja diterima usai pengadaan selesai. (jks/zal)