PEDULI: Lie Agustinus Dharmawan saat menjadi narasumber diskusi publik di RS Telogorejo Semarang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI: Lie Agustinus Dharmawan saat menjadi narasumber diskusi publik di RS Telogorejo Semarang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Tekad dokter berdarah Tionghoa ini melayani kesehatan warga miskin di pulau-pulau terpencil dari Sabang hingga Merauke secara gratis. Ia mendirikan Floating Hospital atau Rumah Sakit Apung (Apung) swasta pertama di Indonesia. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

HINGGA usai senja, dokter yang memiliki nama  Lie Agustinus Dharmawan atau Lie Tek Bie memiliki tekad luar biasa. Ia merancang kapal untuk dijadikan Rumah Sakit Apung (RSA). Rumah Sakit Apung tersebut berlayar dari pulau ke pulau, terutama menjangkau pulau terpencil yang warganya masih sangat membutuhkan pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan tersebut juga diberikan secara gratis. Tentu, upaya untuk mewujudkan cita-citanya menolong pelayanan kesehatan bagi warga miskin di pulau-pulau terpencil itu bukan hal yang mudah.

Ia membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun untuk mendesain kapal menjadi sebuah Rumah Sakit Apung tersebut. Bahkan sebelumnya dilakukan penelitian sejak 2009 silam di Amerika Serikat.  Usai melakukan penelitian, Lie kemudian membeli kapal jenis Pinisi di Palembang pada 2012.

“Pada 16 Maret 2013, kapal ini melakukan pelayaran perdana menuju Kepulauan Seribu,” cerita Lie saat menjadi pembicara dalam acara diskusi publik di RS Telogorejo Semarang, baru-baru ini.

Menggunakan kapal tersebut, Lie bersama timnya mampu mengunjungi berbagai pulau kecil, mulai dari kawasan Indonesia bagian timur hingga barat. Saat ini, Rumah Sakit Apung ini di bawah pengelolaan Yayasan doctorSHARE yang didirikannya.

Ia meneliti jenis kapal apa yang cocok untuk didesain sebagai Rumah Sakit Apung. Sebab, jenis kapal tersebut harus sesuai dengan kondisi dan karakteristik wilayah di Indonesia. “Kapal tersebut tidak besar, namun kokoh, sehingga mampu menjangkau ke pulau-pulau kecil yang tidak dapat dijangkau oleh kapal besar,” katanya.

Di antaranya, Pulau Komodo, Bali, Pulau Kei di Maluku Tenggara, Pulau Mayau di Maluku Utara dan Ternate. Termasuk Belitung Timur, Ketapang, Pontianak dan lain-lain,” kata dokter yang saat ini berusia 71 tahun tersebut.