Oleh: Drs Loso
Oleh: Drs Loso

RADARSEMARANG.COM – ERA millennial saat ini, masih ada siswa yang belum mempunyai karakter yang baik. Ke sekolah terlambat  masuk kelas, seragam sekolah tidak lengkap, semangat belajar kurang, bertemu dengan guru tidak memberi salam, bertemu dengan teman tidak menyapa, dan enggan salat zuhur. Lalu, selesai sekolah, mereka tidak langsung pulang, melainkan duduk-duduk di pinggir jalan, hingga pecah menjadi tawuran pelajar.

Berbagai hal di atas ditambah dengan orang tua mengutamakan pekerjaan masing-masing demi memperoleh harta sebanyak-banyaknya dari pada mendidik karakter anak. Terlebih, masih ada sebagian orang tua yang menganggap bahwa pendidikan akhlak anak merupakan tugas sekolah terutama guru. Padahal, waktu belajar di sekolah hanya Senin-Kamis, dari pukul 07.00-14.30 dan Jumat pukul 07.00-14.00, untuk yang menerapkan lima hari belajar di sekolah. Tugas orang tua hanyalah mencari nafkah untuk anak, bukan untuk mendidik akhlak anak.

Padahal kehadiran pendidikan akhlak untuk anak dari keluarga akan memudahkan pendidikan selanjutnya. Itu karena, anak sudah mempunyai akhlak pada dirinya. Terlebih, mendidik anak pada usia dini sebagaimana kata pepatah, “Bagaikan melukis di atas batu,” artinya mudah menerima dan paham. Itu karena, anak usia dini seperti kertas putih yang belum terkena coretan-coretan yang tidak baik. Maka orang tualah yang langsung berkesempatan memberi pendidikan akhlak yang baik.

Anak adalah investasi yang sangat berharga dibanding harta benda bagi orang tuanya  nanti di akhirat. Jadi mendidik anak berakhlak mulia adalah suatu keharusan bagi orang tua, karena ketika anak sudah berakhlak mulia adalah awal menjadi anak soleh. Yakni, anak yang senantiasa berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan orang tuanya.

Orang tua sudah seharusnya menyiapkan pendidikan akhlak sejak lahir, bahkan sebelum lahir. Wujudnya, ibunya setiap saat berdoa, memperbanyak baca Alquran, berkata dan berperasangka yang baik. Setelah anak lahir hari ke-7 diberi nama, dipotong rambutnya dan disembelihkan sebagai aqiqah buat anak. Setelah sampai masa sekolah, orang tua tidak lupa memilihkan sekolah yang ada pendidikan Agama yang kuat dan membiasakan berakhlak mulia pada setiap harinya. Lalu juga memberi makan dan minum kepada anak dari harta yang halal dan baik.

Anak adalah tanggungjawab orang tua, baik di rumah, di sekolah saat belajar, dan di masyarakat saat berinteraksi dengan orang lain. Walaupun orang tua tidak melihat langsung anaknya, bisa kontak lewat alat komunikasi dengan meminta nomor telpon tempat anak belajar dan orang tua member nomor HP pada sekolah. Tujuannya, agar sewaktu-waktu dapat berkomunikasi mulai anak berangkat dari rumah hingga ke sekolah. Disinilah orang tua mengantar dan memastikan sudah sampai di sekolah dengan selamat. Orang tua dimanapun dan kapanpun tetap mengingat dan mendoakan anak kepada Allah SWT semoga belajar mudah, ilmunya bermafaat, hidupnya berkah dan berakhlak mulia. (*/aro)

Guru PAI SMP Negeri 32 Semarang