Pikma Upgris Siap Terima Curahan Hati

340
KONSELOR : Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak LPPM Upgris Dr Arri Handayani saat menyampaikan paparan di sela-sela pelantikan pengurus Pikma Edukasia Upgris di Gedung Pascasarjana Upgris, kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
KONSELOR : Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak LPPM Upgris Dr Arri Handayani saat menyampaikan paparan di sela-sela pelantikan pengurus Pikma Edukasia Upgris di Gedung Pascasarjana Upgris, kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Keberadaan peer counseling (konseling sebaya, red) dinilai penting. Pasalnya remaja lebih sering menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi dengan teman sebaya, dibandingkan dengan orang tua, pembimbing, guru di sekolah atau dosen di kampus.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak LPPM Universitas PGRI Semarang (Upgris) Dr Arri Handayani, disela pelantikan 18 pengurus Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (Pikma) Edukasia Upgris di Gedung Pascasarjana, Kampus I Sidodadi Semarang, kemarin.

Mahasiswa yang dilantik pun berasal dari masing-masing fakultas. Pihaknya mendorong pengurus Pikma menjadi konselor untuk menjadi pionir tentang generasi berencana (Genre), terutama dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga.

“Nantinya, adik-adik mahasiswa atau teman sebaya yang ingin berbagi cerita, atau ingin mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi bisa datang dan berdiskusi dengan para konselor ini,” terangnya.

Harapannya, permasalahan yang dihadapi bisa mereka selesaikan dengan baik. Selain itu, adanya konselor sebaya ini juga menjadi antisipasi salah alamat bagi mereka yang sedang memiliki masalah sehingga tidak menambah persoalan mereka sendiri.

“Biasanya, remaja akan merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami persoalan yang mereka hadapi, sehingga lebih mempercayai teman sebayanya,” tambahnya.

Keterbukaan dan perasaan senasib di antara mereka ini, dapat menjadi upaya memfasilitasi perkembangan remaja. Di sisi lain, beberapa karakteristik psikologis remaja seperti emosional dan labil, menjadi tantangan bagi efektivitas layanan konseling teman sebaya.

“Ada satu hal yang harus diingat, bahwa konselor sebaya bukan pemberi solusi, namun membantu remaja atau mahasiswa atau klien, dalam menemukan solusi yang terbaik untuk permasalahan yang mereka hadapi,” pungkasnya. (tsa/zal)