33 C
Semarang
Senin, 21 September 2020

Ketika “Princess” Menyentuh Jiwa-Jiwa yang Bermasalah

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Komunitas muda-mudi yang tergabung dalam Griya Schizofren Surakarta, menyadarkan kepada kita bahwa orang dengan masalah kejiwaan (ODMK), tidak  seharusnya dijauhi, ditakuti, apalagi dimusuhi. Mereka butuh sentuhan, kasih sayang, dan kepedulian kita untuk berbagi.

SUATU sore, menjelang Maghrib, Ramadan tahun 2013. Triana Rahmawati, ketika itu mahasiswa jurusan Sosiologi FISIP Universitas Negeri Surakarta (UNS), tengah membeli wedangan (minuman) di sebuah warung kaki lima, tidak jauh dari rumah kosnya. Wedang itu akan diminumnya saat waktunya berbuka puasa tiba.  Di tengah menunggu antrean, tiba-tiba ia mendengar suara adzan Maghrib berkumandang. Saat ditoleh, suara itu datang dari seorang pria, tak jauh dari warung. Penasaran, ia bertanya kepada si penjual wedang. “Memangnya sudah buka (puasa) ya Bu,”  tanya Triana.

Mendengar pertanyaan Triana, si ibu  penjual wedang hanya menjawab singkat. “Jangan dihiraukan Mbak, itu orang gila.” Kata “orang gila” yang dilontarkan oleh  penjual wedang, seketika membuat perasaan  Tria—sapaan intim perempuan 25 tahun itu—terusik. Hati kecilnya berontak mendengar sebutan itu. Baginya, penyebutan orang gila, sama sekali tidak manusiawi.  Tria melihat, bapak yang disebut oleh penjual wedang sebagai orang gila, sama sekali tidak diperlakukan sebagai manusia.  “Dia manusia, tapi tidak dimanusiakan. Dia bagian masyarakat, tapi tidak diperlakukan layaknya masyarakat lainnya,” ucap perempuan kelahiran Palembang, 15 Juli 1992 itu.

Nuraninya pun berontak. Banyak orang peduli pada masalah kesehatan dan pendidikan. Tapi, kenapa justru banyak yang tidak peduli pada orang-orang dengan masalah kejiwaan?. “Di situlah  titik poinnya,” kenang Tria kepada jurnalis radarsemarang.com yang mewawancarainya  di ujung Desember 2017 lalu.  Miris melihat hal itu, seketika muncul dari nurani kecilnya untuk peduli pada orang dengan gangguan kejiwaan. “Saya menyebutnya orang dengan masalah kejiwaan atau disingkat ODMK,” tuturnya. “Ketika itu, hati kecil saya mengatakan, ‘yuk saatnya bergerak’, peduli pada orang-orang dengan masalah kejiwaan.”

Tekatnya untuk memanusiakan penderita gangguan jiwa semakin mantap. Bersama dua temannya satu jurusan di FISIP UNS, yakni Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari, Tria memulainya dengan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat UNS. Ketiganya hendak mendekati persoalan ODMK dari sudut ilmu Sosiologi.

Apa yang kali pertama Anda lakukan? “Mencari tempat rehabilitasi yang mau menerima saya dan teman-teman,” ucap perempuan yang pernah menyabet Juara I Lomba Debat Nasional di Undip itu. Masalah pun muncul. Ternyata, tidak mudah mencari panti rehabilitasi milik yayasan sosial yang bersedia memberi kesempatan untuk  berkontribusi di tempat mereka. “Sampai pada akhirnya, ada tempat yang mau menerima kami, yaitu Griya PMI Peduli,” ucap Tria yang geli jika mengenang dua temannya, Febri dan Wulan, yang pada awalnya tidak mau ikut survei ke tempat rehabilitasi, karena takut berinteraksi langsung dengan ODMK.

Kepada pengelola Griya PMI Peduli, Tria jujur menyampaikan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka PKM. “Biar dapat dana Dikti (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi).” Pengelola Griya PMI Peduli lantas bertanya, apa yang akan mereka lakukan kepada ODMK, karena mereka bukan mahasiswa kedokteran maupun psikologi. “Waktu itu saya dan teman-teman menawarkan menyanyi, menghibur para ODMK. Kenapa nyanyi? Karena nyanyi paling mudah,” kenang Tria.

Setelah meyakinkan niat baiknya, Tria dan teman-teman diajak pengelola griya ke sel berbentuk bangsal yang berisi sejumlah ODMK. “Awalnya bingung mau nyanyi apa. Lalu,  spontan  muncul nyanyi lagu Balonku,” ucap Tria. Dari situlah intensitas Tria dan dua temannya berinteraksi langsung dengan ODMK terjalin. Setelah PKM berakhir, Tria dan kawan-kawannya tetap bersahabat dengan para ODMK. Sekadar menemani ngobrol, mendengarkan mereka curhat, maupun aktivitas lain.

Hingga pada Oktober 2014, Tria dan teman-temannya mendirikan komunitas anak-anak muda—sebagian besar mahasiswa—yang peduli pada orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaannya. “Awalnya cuma sekumpulan orang. Kemudian banyak yang nanya nama komunitas apa? Lantas kita beri nama Griya Schizofren. Sc artinya social, hi maksudnya humanity dan f untuk friendly. Jadi komunitas sosial berlandaskan rasa kemanusiaan dengan mengangkat prinsip persahabatan,” jelas Tria.  “Komunitas ini hadir dengan semangat bahwa anak muda harus peduli pada orang yang bermasalah pada kejiwaan.” Griya Schizofren juga memperjuangkan agar pasien skizofrenia lebih ‘didengar’, karena mereka selama ini seolah tidak punya hak sebagai masyarakat dan warga negara.

Teknisnya, mereka beraktivitas di Griya PMI Peduli, bekerja sama dengan para relawannya.  “Kami turut aktif membangun interaksi sosial melalui kegiatan terapi untuk membantu kesembuhan para penyandang kejiwaan. Karena secara teknis, relawan Griya PMI Peduli sudah banyak melakukan kegiatan. Seperti  menyiapkan makanan, memberikan obat, melakukan berbagai terapi, serta memberdayakan para penderita gangguan jiwa untuk membuat kerajinan tangan.”

Berdiri sejak 2012 silam, Griya PMI Peduli mampu menampung sekitar 150 orang. Hingga saat ini, Griya PMI Peduli sudah menampung lebih dari 400-an orang. Setengah penghuni berhasil sembuh dan kembali kepada keluarga mereka. Sebagian kecil bertahan, menjadi relawan di griya. “Griya PMI Peduli punya panti yang menampung ODMK. Mereka ada yang diambil dari jalan dan dari keluarga tidak mampu. Juga ada dari titipan dinas-dinas. Kita mengumpulkan anak-anak muda yang mau berbakti sosial di bidang masalah kejiwaan,” ucap Tria.  Karena alasan kesehatan, tidak semua bisa diajak berinteraksi.  Dari jumlah itu, yang didampingi komunitas Griya Schizofren hanya sekitar 10 orang.

Tidak hanya menampung, Griya PMI Peduli  Surakarta juga membantu penderita skizofrenia sembuh. Sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Semua penderita skizofrenia diterima tanpa memandang latarbelakang mereka. Dokter Pengelola Griya PMI Peduli, Gathot Adi Yanuar, mengatakan, skizofrenia dikenal sebagai gangguan jiwa yang ditandai oleh halusinasi, delusi, waham, yang menyulitkan penderita untuk berpikir, berbicara, dan berinteraksi dengan orang lain. “Mereka memandang dunia sekelilingnya berbeda dari orang normal.” Karena itu, penderita skizofrenia umumnya merasa depresi, cemas, takut, atau bingung yang berlebihan.”

Skizofrenia juga bisa disebabkan oleh berbagai faktor pemicu stres. Faktor ini bisa bermula dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, pekerjaan, dan lainnya. Faktor ekonomi, perceraian, kekerasan, dan trauma bisa melatari penyakit kejiwaan ini. Gathot melanjutkan, keluarga tetap menjadi terapi terbaik, meski medis dan obat menjadi terapi yang paling utama. Untuk itu, pihaknya berusaha mencari keluarga pasien dan menyarankan mereka pulang jika kondisi kejiwaannya sudah membaik. Hanya saja, pada sebagian kasus, lingkungan keluarga justru menjadi faktor penyebab stres dan depresi. Sehingga ada penderita skizofrenia yang sudah sembuh, justru enggan dipulangkan. “Pada akhirnya, mereka pilih tinggal di panti karena mengangap lebih nyaman dan  menjadi relawan.”

Tria menyampaikan, meyakinkan anak-anak muda—utamanya  mahasiswa–untuk membantu mendampingi ODMK tidaklah mudah. Awalnya, hanya 10 mahasiswa yang terlibat. Seminggu 3-4 kali, mereka mengunjungi dan berinteraksi dengan ODMK di Griya PMI. Hingga akhirnya, ada sekitar 50 volunteer  yang bergabung.  Jenis kegiatan pendampingan yang dilakukan, antara lain, menemani ODMK ngobrol, membimbing membuat keterampilan tangan berupa pin dan bros, menyanyi, menggambar, melipat kertas, maupun salat berjamaah.

“Kadang mereka (ODMK)  juga curhat ke saya  dan volunteer lain. Kami belajar bareng, kerap bercanda dengan mereka, bahkan saling memanggil dengan sebutan Princess,” ucap  Tria, terbahak. Princess, ya  sebutan itu cukup familiar di antara volunteer dan ODMK. Tak sedikit ODMK yang minta dipanggil Princess. Mereka juga memanggil anggota komunitas dengan sebutan Princess.

Dalam perkembangannya, jumlah volunteer menyusut. Dari semula 50 relawan berkurang jadi  30 orang. Berikutnya, 10 orang, lima, hingga 3 orang. Alasan mereka tak aktif lagi di komunitas, beragam. Mulai sibuk kuliah, mempersiapkan ujian akhir, hingga alasan kerja. Awalnya, Tria mengaku sempat down, lantaran kekurangan volunteer. Namun, ia justru dikuatkan oleh pengelola Griya PMI Peduli untuk tidak patah arang. Berapa pun volunteernya, kegiatan Griya Schizofren harus tetap ada. Semangatnya kembali bangkit.

Menggunakan media sosial,  Tria, Arum, Made, dan aktivis yang masih tersisa, melakukan rekrutmen terbuka. Satu sisi, berbagai prestasi Tria sebagai mahasiswi berprestasi, kerap diliput oleh media, baik lokal maupun nasional. Efek dari pemuatan berita soal Tria dan aktivitasnya di Griya Schizofren, menarik minat banyak orang untuk bergabung. Jumlah volunteer bertambah.  Maka, kegiatan pun menjadi berwarna. Salah satunya, Griya Schizofren Accoustic. Sebuah komunitas musik yang ada di Griya Schizofren.

“Komunitas ini ngamen di berbagai tempat, yang uangnya akan diamalkan untuk donasi kemanusiaan bagi ODMK. Sekadar bisa bermain musik, itu terasa biasa. Tapi bermain musik untuk peduli pada manusia yang lain, itu baru luar biasa,” kata Arum Sekar Kinasih, yang kini menggawangi komunitas Griya  Schizofren. Terapi mengaji bagi ODMK juga dilakukan oleh Arum dan relawan lainnya di Griya PMI Peduli.

 

BERBAGI CERITA: Salah satu relawan Griya Schizofren tengah mengajak ngobrol seorang ODMK yang berada di sel bangsal Griya PMI Peduli. (GSS/RADARSEMARANG.COM)
BERBAGI CERITA: Salah satu relawan Griya Schizofren tengah mengajak ngobrol seorang ODMK yang berada di sel bangsal Griya PMI Peduli. (GSS/RADARSEMARANG.COM)

“Griya Schizofren Solo mengajak kakak-kakak mahasiswa menjadi teman mengaji untuk orang dengan masalah kejiwaan di Griya PMI Peduli. Ayo kita menjadi partner akhirat dengan mengaji bersama saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa dan terpisah dari keluarganya.” Begitu salah satu isi woro-woro di medsos komunitas ini.

Tria menjelaskan, ODMK harus menjalani perawatan berkala. Mereka yang sudah tertangani  medis, bisa terkontrol kesehatannya sehingga mampu beraktivitas.  Dulu, target komunitas Griya  Schizofren adalah penyembuhan, sekarang berubah. “Sekarang, lebih pada pendampingan, menemani menjadi teman.” Tria bercerita,  ada ODMK yang sudah berkeluarga, keluar dari Griya PMI Peduli, diajak jalan dan buka puasa bersama saat Ramadan. “Anaknya kami beri hadiah. Sampai sekarang, keluarganya baik pada kawan-kawan Griya  Schizofren.

Pengalaman yang juga berkesan adalah ketika ODMK mengingat namanya, memanggilnya, atau yang punya handphone, mengajaknya ngobrol. Memintanya datang ke Griya PMI Peduli dan mengajak curhat. Itu sangat mengesankan baginya. “Hal yang menyenangkan itu, mereka merasa kebermanfaatan dari kita.” Tria lantas menambahkan, “Sekarang saya lebih fokus pada pengembangan orang-orang yang intens dengan dibatasi durasinya. Artinya, lebih matang secara konsep. Jadi kita berkolaborasi, bekerja sama.”

Nur Hayu, 33, mantan penghuni Griya PMI Peduli yang kini memilih menjadi relawan mengaku, kehadiran Triana Rahmawati dan kawan-kawan yang tergabung dalam komunitas Griya Schizofren, sangat membantu para ODMK. Sebab, kata Hayu, para ODMK,  butuh teman berbagi.  “Mereka butuh didengarkan, dipercaya, dan dihargai untuk memulihkan kondisi kejiwaan. Dukungan dari lingkungan sekitarnya bisa berdampak besar bagi kesembuhan penderita,” kata Hayu.

Sebagai orang yang pernah mengalami gangguan jiwa, Hayu tahu betul apa yang dirasakan oleh para ODMK.  “Terkucil, depresi, cemas, takut, terhina, hidup tanpa asa.”  Kepada orang-orang yang bertamu di Griya PMI Peduli, Hayu tidak malu menyebut dirinya pernah menjadi bagian dari para penghuni griya. Perempuan dua anak itu bahkan kerap menjadi pemandu tamu, karena kecakapannya berbahasa Inggris.  “Mereka sedang sakit, tidak selayaknya kita mengejek dan menyerang dengan kata-kata kasar seperti gila atau tak waras.”

Pengelola Griya PMI Peduli, dr Gathot Adi Yanuar, juga mengapresiasi kegiatan komunitas Griya Schizofren. “Teman-teman  Griya  Schizofren banyak membantu kegiatan di Griya PMI Peduli. Salah satunya, seperti kegiatan keterampilan, dengan ibu-ibu yang pembimbingnya dari YPAC.” Baik Tria, Arum, Made, dan relawan Griya Schizofren lainnya berharap, komunitas ini bisa menjadi wadah bagi pemuda Indonesia untuk menyalurkan kepedulian dan aksi kemanusiaan kepada penderita gangguan jiwa. Sekaligus, memanusiakan mereka yang selama ini diangap sebagai aib dan terpinggirkan.

MENGHIBUR: Sejumlah ODMK di Griya PMI Peduli Surakarta tengah seru-seruan lomba makan kerupuk yang diadakan komunitas Griya Schizofren bekerja sama dengan pengelola Griya PMI Peduli pada momen Tujuhbelasan. (GSS/RADARSEMARANG.COM)
MENGHIBUR: Sejumlah ODMK di Griya PMI Peduli Surakarta tengah seru-seruan lomba makan kerupuk yang diadakan komunitas Griya Schizofren bekerja sama dengan pengelola Griya PMI Peduli pada momen Tujuhbelasan. (GSS/RADARSEMARANG.COM)

Jejak Griya Schizofren Diikuti Muda-Mudi Aceh

Fajrin Rawasiyyah, anggota komunitas Griya Schizofren mengatakan, banyak manfaat yang dipetik setelah terlibat komunitas yang didirikan oleh Tria. “Aku dan sahabat- sahabatku sangat terinpirasi dengan komunitas ini. Banyak kisah inpiratif yang diajarkan dari mereka yang terpinggirkan, karena dianggap bermasalah dengan kejiwaannya,”  tulis Fajrin.

Kali pertama ke Griya PMI Peduli, Fajrin mengaku  takut bertatap muka langsung dengan ODMK. “Aku tidak masuk  ke dalam, karena ada rasa takut untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Aku terharu melihat mereka. Mereka ada di bangsal, tampak sangat menyedihkan jika membayangkan “bagaimana jika aku yang ada di posisi mereka?”

Namun, lama kelamaan, ia dan teman-temannya sesama volunteer  menjadi terbiasa. “Hingga akhirnya aku berani memutuskan untuk ikut masuk dan berinteraksi langsung dengan mereka. Ternyata seru! Seru ketika kita berani mengalahkan ketakutan kita sendiri. Di dalam bangsal niat kami menghibur, tapi ternyata kami yang terhibur. Kami bisa tertawa lepas, bernyanyi, menari, hingga bercandaan yang tak pernah bisa kita dapati di tempat lain.” Di Griya Schizofren, banyak manusia yang harus dimanusiakan. “Dan kita sebagai manusia, sudah sepantasnya memanusiakan manusia.”

Esti, volunteer Griya Schizofren lainnya mengaku terlibat di komunitas Griya Schizofren karena diajak Tria. Dalam tulisannya, Esti mengaku terkesan dengan mantan ODMK bernama Nur Hayu, ketika berkegiatan di Griya PMI Peduli.   “Ia  maunya di panggil Princess Hayu,” kata Esti. Usai kegiatan membuat bros,  Esti dan volunteer lainnya ke mushala bersama Hayu. “Kami salat diimami oleh Princess.” Usai salat, Esti kembali ke ruang kegiatan. Ia sempat membaca buku diary milik Hayu.

“Di diary-nya  banyak tulisan bahasa Inggris. Dia menceritakan kerinduan pada suaminya. Yang membuatku tercengang, ada arti ayat Alquran. Dia bercerita kalau semalam bangun jam 1, lalu membaca Alquran, lalu menuis artinya di diary. Subhanallah, aku yang katanya sehat, waras tak pernah menulis arti ayat-ayat Allah.”

Keterlibatannya di Griya Schizofren, menjadikan dirinya sangat mensyukuri artinya nikmat sehat, waras, punya keluarga, dan memiliki banyak teman. “Aku mulai sadar, apalah arti IPK, uang banyak, teman gaul dan yang lainnya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.”

Jejak Tria dengan komunitas Griya Schizofrennya, juga diikuti sekelompok muda-mudi Aceh yang juga mendirikan Griya Schizofren di Tanah Rencong. Di sana, komunitas ini bekerja sama dengan rumah sakit jiwa setempat. Di Aceh, Griya Schizofren lahir pada 10 April 2015. Kegiatannya, mengisi rumah sakit jiwa di Aceh, dengan kegiatan pendampingan kepada para ODMK. Di antaranya, kegiatan menyanyi, menggambar, membuat lukisan dari pasir, terapi musik, dan sebagainya. Komunitas yang  digawangi oleh Yelli Sustarina ini,  sudah merekrut 20 relawan  yang bersedia mendampingi ODMK.

PENGHARGAAN DARI ASTRA: Triana Rahmawati bersama beberapa pemenang SATU Indonesia Awards 2017 lainnya, usai pengumuman dan penyerahan hadiah di Jakarta. DOK PRIBADI TRIANA/RADARSEMARANG.COM)
PENGHARGAAN DARI ASTRA: Triana Rahmawati bersama beberapa pemenang SATU Indonesia Awards 2017 lainnya, usai pengumuman dan penyerahan hadiah di Jakarta. DOK PRIBADI TRIANA/RADARSEMARANG.COM)

Diapresiasi Astra

Atas upayanya menggugah kesadaran anak-anak muda untuk peduli pada orang dengan masalah kejiwaan melalui komunitas Griya Schizofren, Triana Rahmawati mendapatkan penghargaan. Tria pernah diundang ke Jepang dua kali, untuk mempresentasikan hasil risetnya soal perilaku ODMK dari sudut seorang sosiolog pada forum pertemuan psikolog sedunia di Negeri Sakura.  Teranyar, pada Oktober 2017 lalu, Tria juga mendapatkan penghargaan dari Astra untuk kategori pendamping masalah kejiwaan. Yaitu, berupa penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards tahun 2017. Penghargaan yang diterima Triana Rahmawati, berkat konsistensi dan kegigihannya menyebarkan gerakan untuk peduli kepada orang-orang dengan masalah kejiwaan.

“Saya berbicara kepada juri bahwa apa yang saya lakukan bukan hal besar. Tapi saya percaya ODMK itu ada dan tenaga medis terbatas. Tapi, masyarakat tidak terbatas. Saya seorang sosiolog, bagian dari masyarakat yang bisa membantu perbaikan nasib ODMK, dengan mengurangi stigma di masyarakat,” paparnya.

Tria  menegaskan, dirinya tidak menyembuhkan ODMK, tidak juga membuat jumlah mereka berkurang. Mereka berkurang karena meninggal atau diambil keluarga. Paling banyak berkontribusi adalah Griya PMI Peduli, karena PMI punya program, tempat, dan perawat. “Saya hanya mengajak anak-anak muda, harapannya generasi ke depan, bisa menjelaskan bagaimana mereka punya pengalaman dengan ODMK sehingga mengubah stigma miring tentang ODMK,” ucapnya.

Maka, hadiah atas penghargaan tersebut, kata Tria, sepenuhnya untuk membiayai kegiatan sosial. Saat ini, ia tengah membuka beasiswa volunteer untuk program magang di Griya Schizofren. Sebab, selama ini untuk membiayai kegiatan di komunitas, menggunakan uang pribadi.  Tria mengaku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk meraih penghargaan atau sejenisnya, ketika mendirikan Griya Schizofren. Niatnya tulus:  memanusiakan ODMK.  Kendati demikian, Tria mengaku senang, karena ada pihak-pihak yang peduli pada  orang-orang  yang bermasalah dengan kejiwaannya.

“Penghargaan yang diberikan oleh Astra, sebenarnya wujud Astra memberi apresiasi kepada ODMK, bukan kepada seorang Tria. Karena saya hanya representasi dari ODMK,” kata Tria. Penghargaan SATU Indonesia yang diterimanya, sambung Tria, menunjukan bahwa perusahaan besar sekelas Astra, punya kepedulian dan perhatian lebih pada orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaan. “Itu artinya, perusahaan besar sekelas Astra saja mau memberi  apresiasi ke ODMK. Seharusnya perusahaan lain juga begitu.”

Terpenting bagi Tria, dengan bantuan Astra, maka impian komunitas Griya Schizofren sudah mendekati kenyataan. Yaitu, membuat rumah singgah sendiri bagi para ODMK. “Kami ingin memiliki rumah sendiri, dengan ODMK yang dirawat bersama volunteer. Kami ingin membuat ODMK-ODMK itu tidak takut hidup bersama kami. Karena masih banyak anggota keluarga yang khawatir hidup bersama, ketika ada anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.”

Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman mengatakan, Triana Rahmawati,  mendapatkan penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards tahun 2017 atas komitmen dan kontribusinya menjadi pendamping bagi orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaan melalui komunitas bentukannya:  Griya Schizofren.

Yulian menyampaikan,  setiap penerima penghargaan SATU Indonesia, melalui proses seleksi dan penilaian ketat dewan  juri yang terdiri atas Prof Dr Emil Salim, Prof. Nila Moeloek, Tri Mumpuni, Prof. Fasli Jalal, Onno W. Purbo. Konsistensi Triana Rahmawati dalam memberi pendampingan kepada orang dengan masalah kejiwaan melalui komunitas Griya Schizofrennya dirasakan betul oleh para penderita skizofrenia dan keluarganya.

Selain itu, Triana Rahmawati merupakan anak muda yang memiliki kontribusi besar terhadap orang lain, dalam hal ini penderita gangguan jiwa. “Anak-anak muda zaman sekarang cenderung milenial, instan dan mementingkan diri sendiri. Namun, dia (Triana Rahmawati) bersama kawan-kawannya melalui komunitas Griya Schizofren memikirkan nasib orang lain. Membantu orang lain tanpa meminta bayaran. Anak-anak muda yang memberi nilai tambah pada masyarakat,” ungkap Yulian kepada radarsemarang.com.

Lanjut Yulian, Triana membantu sekelompok masyarakat tersebut tanpa digaji dan tanpa menerima imbalan, justru dia keluar dana. “Anak-anak muda zaman sekarang mana ada yang seperti itu,” tandasnya. Terlebih, Triana dengan tulus tanpa meminta imbalan mendampingi sekelompok orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang umumnya justru dijauhi oleh masyarakat. Dia adalah cermin anak muda yang mampu memberi nilai tambah kepada masyarakat. Hal inilah yang mendorong Astra memberinya penghargaan. Anak muda yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi justru memberi solusi masyarakat. (lis.retno.wibowo/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Melindungi Siswa dari Jajanan Berbahaya di Sekolah

RADARSEMARANG.COM - BERBAGAI kasus keracunan makanan telah terjadi di beberapa tempat yang dialami oleh siswa-siswi di sekolah. Kasus semacam itu tak henti-hentinya terjadi di...

Hanya 29 yang Daftar Calon DPD RI

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pendaftaran jalur persorangan anggota DPD RI di Jateng bisa dibilang kurang peminat. Sebab, pendaftaran yang dibuka 22-26 April 2018 kemarin, hanya...

Operasi Pasar Sasar 3 Wilayah

MUNGKID—Melonjaknya sejumlah harga kebutuhan bahan pokok menjelang Idul Fitri, membuat Dinas Perdagangan Koperasi (Disdagkop) UKM Kabupaten Magelang, melakukan langkah antisipasi. Mereka menggelar operasi pasar...

Merapi Beraksi, Warga Diminta Waspada

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Gunung Merapi kembali erupsi freatik Kamis (24/5). Terjadi letusan pada pukul 10.48 WIB, durasi 2 menit, amplitudo maksimum 44 mm, tinggi kolom...

GTT dan PTT Wajib Kembalikan Bantuan Transport

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Jateng, ada kesalahan administrasi pada bantuan transport tahun 2017 untuk para guru tidak tetap...

DMI dan Takmir Diminta Aktif Netralisir Gejolak Sosial

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang bersama seluruh takmir masjid diminta aktif menetralisir gejolak sosial yang terjadi di masyarakat. Peran DMI...