KIRAB BUDAYA: Kirab budaya perdana Desa Jetak kecamatan Getasan ini diharapkan dapat menjadi kegitan rutin tahunan. (IST)
KIRAB BUDAYA: Kirab budaya perdana Desa Jetak kecamatan Getasan ini diharapkan dapat menjadi kegitan rutin tahunan. (IST)

RADARSEMARANG.COM, GETASAN – Desa Jetak dihuni oleh penduduk dengan berbagai latar belakang agama. Meskipun dari latar belakang yang bermacam-macam, warga hidup secara berdampingan dan rukun, tanpa ada suatu gesekan apapun.

Berbagai kegiatan bersama pun dikatakan oleh Hendro Tri Putranto, Sekretaris Desa Jetak sering dilakukan secara bersama-sama. Salah satu kegiatan bersama yang belum lama berlangsung adalah kegiatan kirab budaya yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat desa Jetak tanpa terkecuali.”Kemarin dihadiri oleh Pak Wakil Bupati, sekaligus saat itu Desa ini diresmikan sebagai Desa pelopor Pancasila,” kata Hendro kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sekdes : Hendro Tri Putranto. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sekdes : Hendro Tri Putranto. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dirinya menjelaskan, kirab budaya ini bertujuan untuk memupuk kerukunan yang selama ini memang sudah terbentuk.  Dikatakan olehnya, kerukunan agama antar warga di Desa ini memang sangat bagus. Ia bahkan menyebut Desa ini sebagai Indonesia mini dengan keberagaman yang ada di dalamnnya. ”Kami berharap setiap warga menyadari bahwa perbedaan itu ada bukan untuk perpecahan, tapi untuk dijadkan sebuah harmoni agar dapat hidup rukun berdampingan,” kata pria bergelar Sarjana Pendidikan ini.

Kerukunan warga juga terlihat dalam upaya pemanfaatan kotoran ternak secara bersama. Di Desa ini kotoran hewan dimanfaatkan kembali untuk menjadi biogas. Terhitung, hingga saat ini sudah ada sekitar 140 kepala keluarga (kk) yang sudah menggunakan biogas hasil olahan warga.

Desa ini mayoritas memang penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak. Untuk memafaatkan limbah ternak inilah pemerintah desa memanfaatkannya  untuk menjadi biogas yang dapat digunakan secara bersama-sama. ”Kita tahu bahwa ketersediaan gas alam semakin menipis. Sehingga kami ingin memanfaatkan bahan bakar yang ketersediaannya akan terus ada selama masih ada ternak,” jelasnya.

Pemanfaatan biogas ini akan terus dikembangkan oleh pemerintah desa. Dengan deikian, seluruh wara desa Jetak ke depan semuanya  bisa memanfaatkan biogas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hendro menambahkan, selain sebagai desa pelopor pancasila dan penghasil biogas, terdapat beragam produk umkm di desa Jetak ini.  Salah satunya, ada abon ares pisang yang dalam waktu dekat akan diikutkan ekspo untuk mengenalkannya kepada masyarakat luas. ”Itu yang untuk makanan. Kami juga memiliki sejumlah kesenian yang ke depan tentunya akan kami kembangkan untuk membuat desa ini semakin dikenal dan semakin maju,” kata dia.

Hendro berharap, desa Jetak ke depan bisa menjadi desa pelopor pancasila yang  mandiri dalam hal energi serta memiliki sejumlah seni budaya dan produk unggulan berupa hasil UMKM. Sehingga, semua ini dapat membuat kehidupan warga masyarakat Jetak semakin sejahtera. ”Kesejahteraan itulah yan utama, yang akan kita upayakan untuk dicapai. Caranya melalui penggalian potensi-potensi yang ada di desa sini ini,” jelasnya. (sga/bas)