Oleh: Mohamad Masruri SPdI MSi
Oleh: Mohamad Masruri SPdI MSi

RADARSEMARANG.COM – PENDIDIKAN sejatinya merupakan proses pembentukan moral masyarakat beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang normal. Artinya, pendidikan yang dimaksudkan di sini lebih dari sekedar sekolah (education not only education as schooling) melainkan pendidikan sebagai jaring-jaring kemasyarakatan (education as community networks).

Krisis moral yang melanda bangsa ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan bagi semua kalangan. Bagaimana tidak, dari maraknya kasus korupsi yang tidak pernah surut bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Di sisi lain krisis ini  menjadi kompleks dengan berbagai peristiwa yang cukup memilukan seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan yang disertai pembunuhan. Fenomena ini sesungguhnya sangat berseberangan dengan suasana keagamaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Jika krisis ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut apalagi dianggap sesuatu yang biasa, maka segala kebejatan moralitas akan menjadi budaya. Sekecil apapun krisis moralitas secara tidak langung akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendidikan diharapkan bisa memberikan sebuah kontribusi positif dalam membentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara kemampuan intelektual dan moralitas. Dengan mensejajarkan dua komponen ini pada posisi yang tepat, diharapkan bisa mengantarkan kita untuk menemukan jalan yang lurus (shirat al-mustaqim). Jalan yang akan dapat membuka mata hati dan kesadaran kemanusiaan kita sebagai  anak-anak bangsa. Sehingga krisis yang hampir saja menghempaskan kita ke jurang kebangkrutan dan kehancuran, dengan segera dapat dilalui dan cepat berlalu.

Perihal pendidikan agama sendiri menyangkut tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Ini berarti bahwa pendidikan agama bukan hanya sekedar memberi pengetahuan tentang keagamaan, melainkan justru yang lebih utama adalah membiasakan anak taat dan patuh menjalankan ibadat dan berbuat serta bertingkah laku di dalam kehidupannya sesuai dengan norma-norma yang telah ditetapkan dalam agama masing-masing

Untuk itu, ada beberapa alasan mengenai perlunya  Pendidikan Agama Islam  dikembangkan menjadi budaya sekolah, yaitu : Pertama, orang tua memiliki hak progretif untuk memilih sekolah bagi anak-anaknya, sekolah berkualitas semakin dicari, dan yang mutunya rendah akan ditinggalkan. Ini terjadi hampir di setiap kota di Indonesia.

 Kedua, penyelengaraan pendidikan di sekolah (negeri dan swasta) tidak lepas dari nilai-nilai, norma perilaku, keyakinan maupun budaya. Apalagi sekolah yang diselenggarakan oleh yayasan Islam.

 Ketiga, selama ini banyak orang mempersepsi prestasi sekolah dilihat dari dimensi yang tampak, bisa diukur dan dikualifikasikan, terutama perolehan nilai UN dan kondisi fisik sekolah. Padahal ada dimensi lain, yaitu soft, yang mencakup: nilai-nilai (value), keyakinan (belief), budaya dan norma perilaku yang disebut sebagai the human side of organization (sisi/aspek manusia dari organisasi) yang justru lebih berpengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi (sekolah), sehingga menjadi unggul.