RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Capaian pajak daerah Jateng tahun 2017 terbilang memuaskan. Dari target yang ditentukan, realisasinya bisa tembus hingga 100 persen lebih. Beda dari tahun sebelumnya yang justru jauh di bawah target.

Dari data Badan Pengelola Pendapatan Daerah (BPPD) Jateng, per 25 Desember 2017, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sudah mecapai Rp 3,77 triliun. Capaiannya 101,9 persen dari target Rp 3,7 triliun. Pajak Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dari target Rp 2,97 triliun, tercapai 100,61 persen atau Rp 2,988 triliun.

Untuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) target Rp 1,586 triliun, tercapai 104,21 persen atau Rp 1,653 triliun. Pajak Air Permukaan (PAP) target Rp 10,5 miliar tercapai 106,15 persen atau Rp 11,145 miliar. Pajak Rokok target Rp 1,95 triliun tercapai 104,12 persen atau Rp 2,03 triliun. Sementara Retribusi Daerah, target Rp 4,775 triliun tercapai 102,71 persen atau Rp 4,905 triliun.

Kepala BPPD Jateng, Ihwan Sudrajat menjelaskan, pihaknya akan merancang program agar capaian 2018 mendatang lebih baik lagi. “Kami akan memperluas program agar pendapatan pajak bisa lebih tinggi dari target yang ditentukan. Tentu butuh kerja keras untuk merealisasikannya,” terangnya, Senin (25/12).

Di 2018, pihaknya akan lebih menggarap pendapatan dari pajak rokok. Sebab, setiap tahun, pajak dari cukai rokok masih sangat signifikan dalam mendulang pendapatan daerah. “Kalau pengelolaan cukainya tidak dikencangkan, pasti akan menurun. Apalagi konsumsi rokok cenderung mulai menurun,” katanya.

Muncul wacana akan meningkatkan cukai rokok hingga 10,9 persen. Artinya, target pendapatan pajak rokok 2018, minimal juga harus meningkat sesuai besaran kenaikan cukai. Jika konsumsi rokok memang menurun, pihaknya akan mendongrak lewat razia cukai ilegal. “Tahun depan akan semakin intens melakukan razia atau sweeping cukai ilegal di lapangan,” bebernya.

Optimalisasi pajak juga akan dilakukan untuk sektor PAP. Sebab, selama ini, Pemprov Jateng baru memungut pajak dari industri besar saja. Seperti Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), Indonesia Power, dan beberapa pabrik air minum kemasan. Dia menyadari, masih banyak potensi yang bisa disasar untuk meningkatkan pendapatan dari PAP. “Tahun depan akan kami sasar semua potensi. Targetnya, bisa diatas Rp 15 miliar,” terangnya.