MOTIVASI: Anggota DPR RI Komisi X Mujib Rohmat (tengah) saat memberikan motivasi kepada para seninam di Kaliwungu, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MOTIVASI: Anggota DPR RI Komisi X Mujib Rohmat (tengah) saat memberikan motivasi kepada para seninam di Kaliwungu, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Generasi muda diharapkan terus mengasah kemampuan dan kreativitasnya. Sebab generasi muda adalah generasi penerus yang sedianya harus dilalui dengan belajar dan banyak membaca buku. Selain itu berorganisasi agar bisa banyak pengalaman dalam mengkoordinir dan memecahkan masalah.

Demikian dikatakan Anggota DPR RI Mujib Rohmat dalam helatan acara Sarasehan Budaya yang digelar komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK). Menurutnya sekarang ini banyak generasi muda yang justru terjebak pada budaya pragmatis. “Ingin segala sesuatunya itu serba cepat dan instan tanpa mau berproses,” tuturnya.

Hal inilah yang mengakibatkan orang tidak memiliki pondasi kuat. Sehingga mudah diombang-ambingkan ataupun dipecah belah. Seperti contoh saat belajar lebih mudah baca dari internet ketimbang belajar dari buku. Sehingga ilmu yang dihasilkan instan dan tidak punya pemahaman yang kuat tentang keilmuan yang didapatnya.

Contoh lain, sekarang anak-anak muda lebih suka diskusi di media sosial yang berujung pada bully yang tidak sehat ketimbang diskusi pada forum resmi. Media sosial lebih banyak digunakan untuk berfoto selfie dari pada membangun jejaring sosial.

“Budaya ini lah yang harus dihindari. Jadi pemuda itu ya harus banyak belajar, membaca buku, beroganisasi, mengolah dan memecahkan masalah. Sehingga mereka akan terbiasa, dengan begitu ketika terjun di masyarakat dan berkeluarga sudah siap,” tandasnya.

Termasuk salah satunya dengan berkesenian. Menurutnya seni dapat menjadi media dakwah atau ajakan yang indah. Sebab seni adalah mengungkapkan rasa dengan keindahan. Sehingga bisa diterima seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya seni saat ini yang justru bisa menjadi senjata ampuh untuk merekatkan dan membangkitkan rasa cinta tanah air, toleransi ditengah kebhinekaan. “Ungkapan atau ajakan dengan musik, nyanyian, tari, lukisan, teatrikal dan sebagainya. Jadi menurut saya seni ini bisa mempersatukan segalanya,” tandasnya.

Camat Kaliwungu, Dwi Cahyono berharap seni ini bisa terus dikembangkan di Kaliwungu. Yakni sebagai bentuk nguri-nguri kebudayaan dan dapat mengulang kembali kejayaan Kaliwungu. “Kaliwungu ini merupakan daerah yang kental dengan nilai agama dan religi. Jadi selain banyak tokoh agama Kaliwungu juga banyak seniman,” tuturnya. (bud/bas)