BACAKAN REMISI : Kepala Lapas Semarang, Taufiqurrohman saat membacakan remisi dalam acara perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 di Gereja Oikumene Imanuel Lapas Klas I Kedungpane Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BACAKAN REMISI : Kepala Lapas Semarang, Taufiqurrohman saat membacakan remisi dalam acara perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 di Gereja Oikumene Imanuel Lapas Klas I Kedungpane Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 56 warga binaan pemasyarakatan (WBP) pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I, Kedungpane, Kota Semarang mendapatkan remisi khusus hari Natal 2017. Puluhan WBP tersebut berasal dari empat kategori perkara tindak pidana, mulai pindana umum (pidum) ada 24, narkotika 26, tindak pidana pencucian uang (TPPU) 2, dan korupsi 4 WPB.

Dari 56 WBP yang diusulkan, hanya 47 mendapat Surat Keputusan (SK) remisi. Sedangkan 9 WBP lainnya, masih dalam tahap usulan SK remisi di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Departemen Kemenkum dan HAM. Remisi yang didapat WPB juga beragam, mulai dari 15 hari hingga satu bulan.

“Per 25 Desember, jumlah narapidana (napi) di Lapas Semarang ada 882 orang, sedangkan tahanan 609 orang, maka totalnya ada 1491 WBP. Jumlah itu, yang beragama nasrani hanya 96 orang, terdiri atas 35 tahanan dan 61 napi,” kata Kepala Lapas Semarang, Taufiqurrohman dalam laporannya, Senin (25/12) kemarin.

Sedangkan terkait layanan kunjungan dalam peringatan Natal, imbuhnya, pada hari pertama ada 363 WBP yang dikunjungi. Namun jumlah pengunjungnya mencapai 1.318 orang. “Pendaftaran layanan kunjungan dibuka mulai pukul 08.30 hingga 11.30. Sedangkan kunjungan dimulai pukul 09.00 hingga 12.30,” sebutnya usai laporan.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenkum dan HAM Jawa Tengah, Ibnu Chuldun menyampaikan bahwa warga binaan di Lapas se-Jawa Tengah yang mendapat remisi khusus Natal 2017 sebanyak 320 orang. “Remisinya beragam, ada yang 15 hari, paling banyak enam bulan,” kata Ibnu dalam sambutannya.

Ia menyampaikan, warga binaan yang berhak mendapatkan remisi, apabila telah menjalani minimal enam bulan masa hukuman. Kemudian, narapidana melewati proses pengamatan, penilaian, assesment oleh Kepala Lapas. Baru diajukan ke kantor wilayah. “Nanti kanwil yang meneruskan usulan remisi dari kepala Lapas ke pusat,” ujarnya.

Syarat utama napi yang bisa diusulkan untuk mendapat remisi, kata Ibnu, berkelakuan baik, selalu mengikuti program pembinaan di lapas, dan yang paling penting tidak melakukan pelanggaran. “Contoh, napi narkoba. Dia sudah tidak bersentuhan lagi dengan narkoba atau jaringannya,” sebutnya.

Terpisah, salah satu napi yang mendapat remisi, Leonardus Uliyana, mengaku senang masa hukumannya dipotong satu bulan. Napi perkara narkoba dan cukai dengan vonis pidana 4 tahun 3 bulan ini, berjanji akan menata hidupnya kembali apabila keluar dari lapas. “Jujur saya senang sekali. Masa hukuman saya dipotong satu bulan, dapat remisi,” kata Leonardus yang mengaku telah menjalani masa hukuman selama satu tahun 11 bulan di Lapas Semarang.

Jika bebas, dia juga sudah berencana membina kembali keluarganya yang telah ditinggalkan selama ini. Ia mengaku aktif dalam kegiatan keagamaan, selain program pembinaan yang diberikan oleh pihak lapas. “Saya berusaha menghidupi keluarga saya, apabila bebas nanti,” ujarnya. (jks/ida)