AKSI KOLABORASI: berbagai komunitas seni di Wonosobo melakukan aksi teatrikal dan body painting yang menggambarkan sikap penolakan terhadap politik uang padapPilgub danpPemilu mendatang. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
AKSI KOLABORASI: berbagai komunitas seni di Wonosobo melakukan aksi teatrikal dan body painting yang menggambarkan sikap penolakan terhadap politik uang padapPilgub danpPemilu mendatang. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Upaya mencegah pelanggaran pemilu, terus digencarkan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Wonosobo. Kali ini melibatkan berbagai komunitas seni di kota dingin itu agar terlibat dalam pengawasan pemilu.

Melalui kegiatan pelatihan pengawasan pemilu partisipatif bertema Peran Komunitas dalam Mewujudkan Pemilu yang Berkualitas dan Berkeadilan, Sabtu (23/12) melibatkan semua komunitas yang ada di Wonosobo. Mulai dari komunitas Beatbox, komunitas stand up comedy, komunitas teater, komunitas seni musik dan rebana, dan komunitas seni tari dan seni rupa.

Peran komunitas tersebut menurut Sumali Ibnu Chamid dari Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar-Lembaga Panwas Kabupaten Wonosobo, sebagai upaya peningkatan partisipasi masyarakat yang diambil dari beberapa segmentasi masyarakat dari organisme di lingkungan yang memiliki kebudayaan sama.

“Keikutsertaan mereka (pegiat seni) merupakan sebagai langkah awal dalam propaganda melalui seni. Tujuannya komunitas seni terlibat mengawasi pemilu dengan keseniannya,”tegasnya.

Pegiat seni, kata Ibnu Chamid, memiliki ruang yang luas dalam transformasi informasi kepada masyarakat luas. Dengan berbagai pendekatan seni, seperti, puisi, lukisan, tari, lagu, dan teater mampu menjadi sarana menggugah kesadaran masyarakat terlibat awasi pemilu.

“Komunitas yang hadir memiliki karya, didorong mampu memproduksi karya untuk menumbuhkan kesadaran pengawasan pemilu,”ujarnya.

Dalam kegiatan yang diikuti 70 orang tersebut, peserta dibekali pemahaman tentang hal-hal yang ada dalam pemilu baik tahapan, jenis-jenis pelanggaran dan sebagainya. “Pegiat seni juga harus paham bagaimana melaporkan pelanggaran pemilu,”katanya.

Agus Wuryanto, salah seorang budayawan Wonosobo yang juga menjadi narasumber menegaskan, propaganda seni diupayakan sebagai bentuk pencapaian demokrasi yang baik. Dan dalam pencapaian demokrasi tersebut, tentunya masyarakat harus memilih pemimpin yang visioner, cerdas, mengayomi masyarakat dan mampu mengakomodasi kepentingan rakyatnya.

“Pencapaian dalam memilih pemimpin tersebut sangat mampu dilakukan jika masyarakat berperan aktif,” paparnya.

Dikatakan lulusan ISI Jogja itu, komunitas pegiat seni melakukan perannya dalam propaganda seni sebagaimana yang pernah dilakukan di Eropa tempo dulu. Terbukti pada abad pencerahan, seni yang selaras dengan ilmu pengetahuan merupakan bentuk propaganda yang paling efektif pada saat itu. “Kami rasa, seni bisa menjadi alat dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat menjadi pengawas pemilu partisipatif,” imbuhnya.

Sebagai bentuk peran aktif dan menunjukan kesiapan mereka sebagai pengawas partisipatif, para komunitas menampilkan bentuk seni dan karya mereka pada acara tersebut, sesuai bidang masing-masing. Cara tersebut dimaksudkan sebagai bentuk yang bisa dilakukan mereka sebagai upaya pencegahan untuk masyarakat maupun organisasi di lingkungannya. (ali/lis)