RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 13 tenaga kerja asing (TKA) ilegal asal Tiongkok terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng. Mereka bekerja di PT Waskita, sektor konstruksi proyek pembangunan jalan tol di Kabupaten Pekalongan.

Kepala Bidang Pengawas Ketenagakerjaan Disnakertrans Jateng, Budi Prabawaning Dyah mengungkapkan, OTT dilakukan bedasarkan laporan dan aduan dari masyarakat. Kabarnya, di perumahan tempat tinggal mereka sering ada kegaduhan dengan keberadaaan TKA Tiongkok.

Saat didatangi, ada 18 TKI yang tinggal disana. Tapi lima diantaranya sudah mengantongi Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker). “Dari 18 TKA, lima sudah ada izin. Jadi kami mengamankan 13 TKA,” ujarnya, Minggu (24/12).

Penangkapan itu, lanjutnya, dilakukan di di Pekalongan oleh Satuan Pengawasan Ketenagakerjaan (Satwasker) Wilayah Pekalongan dipimpin oleh Kasatwasker Pekalongan Budiono. Setelah itu, Disnakertrans Jateng langsung melakukan komunikasi ke pihak penyedia tenaga kerja dari Jakarta yaitu PT GEOTEKINDO. Surat resmi telah dikeluarkan berupa rekomendasi untuk mengeluarkan para TKA tersebut.

“Surat resmi dikirim ke imigrasi dan perusahaan bahwa mereka tidak dilengkapi dokumen maka harus dikeluarkan. Apalagi mereka sudah sekitar 5 bulan bekerja,” katanya.

Mengenai deportasi dari Indonesia, kata Budhi, adalah kewenangan dari pihak Imigrasi. Jika ternyata dokumen yang dimiliki, baik paspor maupun visanya tidak sesuai, maka dapat dideportasi. “Itu kewenangan pihak Keimigrasian. Kita hanya sebatas izin kerjanya,” imbuhnya.

Menurutnya, Disnakertrans Jateng bertindak tegas terhadap para TKA ini. Meskipun mereka bekerja di PT Waskita yang merupakan perusahan milik pemerintah, namun ketika ada pelanggaran tetap ditindak. “Memang sama-sama dari pemerintah, tapi kalau dari sisi ketenagakerjaan tidak sesuai ya wajib ditindak,” tegasnya.

Pihaknya memperkirakan, di Jateng masih banyak lagi TKA ilegal. Tapi untuk dilakukan OTT para pengawas harus mendapatkan informasi lengkap terlebih dahulu. Kemudian baru bisa masuk ke tempat kerja dan jika sedang operasional langsung ditangkap. “Jadi di Jateng kemungkinan masih banyak, kita akan menyisir beberapa lokasi lagi kalau memang ditemukan maka langsung ditindak. Intinya surat-surat harus lengkap dan dia harus bisa berbahasa Indonesia,” tegasnya.

Adapun, adanya TKA ilegal, menurut Budhi, biasanya mereka datang hanya bermodalkan paspor dan menggunakan visa kunjungan atau wisata. Seraya menunggu proses keluarnya IMTA, mereka sudah bekerja lebih dahulu.

“Tapi dalam hal ini, ketika IMTA nggak ada, maka wajib dikeluarkan. Yang paling banyak memang dari Tiongkok. Tahun ini kita juga temukan di Cilacap, Jepara, Magelang, Wonogiri, juga ada kasus serupa,” tegasnya. (amh/ric)