Daru Eko Pulunggono (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Daru Eko Pulunggono (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Para rohaniawan nasrani ini dekat para narapidana dan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (lapas). Mereka kerap menjadi tempat curhat para napi, baik napi kasus narkoba, pencurian, pembunuhan, hingga terpidana hukuman mati. Seperti apa?

RUMAH sederhana di Jalan Sendangguwo Selatan No 33-35 RT 7 RW 9, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Semarang, itu tertutup oleh tembok dan pagar besi setinggi kurang lebih 1,5 meter. Rumah itu terlihat cukup sepi, tapi pintu pagar jarang terkunci. Meski melewati gang-gang berliku dan pohon-pohon besar di tepi sungai, letak rumah tersebut cukup mudah dicari. Sebab, penduduk di sekitar lokasi cukup mengenal akrab sosok penghuni rumah yang dikenal sebagai seorang biarawati. Ia biasa disapa Ibu Asih, dengan nama lengkap Chatarina Sumiyarsih SRM (Serikat Rosa Mistika).

SUWARTI (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
SUWARTI (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG

Asih juga dikenal sebagai sosok santun dan dermawan karena memiliki banyak anak asuh tanpa memandang apa agamanya. Ia telah meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Jauh dari hingar-bingar kehidupan. Memilih jalan sunyi menjadi biarawati. Ia memutuskan tidak menikah hingga akhir hayat. Hingga sekarang, berusia 65 tahun, Asih masih aktif mendampingi para narapidana di Lapas Wanita Bulu dan Lapas Kedungpane Semarang. “Saya banyak bersyukur diberi hidup dan diberi kekuatan. Sehingga bisa membantu orang yang membutuhkan,” kata Asih saat berbincang dengan koran ini, Sabtu (23/12).

Dikatakan, jumlah napi Lapas Kedungpane saat ini 1.507 orang, sebanyak 150 orang di antaranya nasrani. Sedangkan di Lapas Bulu sebanyak 384 narapidana, 90 orang di antaranya nasrani. Ia menjadi sosok wanita yang memiliki pengalaman unik. Sebab, sebagai sosok ibu yang rela mendengarkan keluh kesah para pelaku kejahatan penghuni jeruji besi. Mulai dari narapidana kasus pencurian, penggelapan, narkoba, pembunuhan, hingga terpidana eksekusi mati. “Saya hanya berusaha mendampingi, menemani, mengajak bagaimana bertobat, bagaimana memperbaiki hidup dan seterusnya. Bahkan para napi setelah bebas tetap berkomunikasi menjadi saudara,” ujarnya.

Hubungan Asih dengan para napi tidak sekadar sebagai penasehat. Tetapi ia juga menjadi sosok yang menolong keluarga para napi tersebut. Bahkan anak-anak para napi banyak yang menjadi anak asuhnya. “Seringkali, anaknya saya ambil untuk jadi anak asuh. Saya bantu biayai sekolahnya hingga tamat. Ada yang saya asuh sejak SD hingga lulus SMA. Bahkan ada juga ibunya masuk penjara, ayahnya korban PHK. Anaknya saya sekolahkan, sekarang menempuh S2 dan menjadi dosen,” kata wanita kelahiran Semarang, 5 Agustus 1953 ini.

Saat ini, ia memiliki 23 anak asuh. “Nggak semua Katolik, ada muslim juga. Saya tidak memandang agama. Ada yang orang tuanya dipenjara, bapaknya lupa jalan pulang, ayahnya meninggal, ibunya hanya tukang cuci, kemudian anaknya saya bantu sekolahkan. Saya sendiri nggak kerja, semua uang berasal dari Tuhan. Hidup ini unik dan penuh misteri,” ujarnya.