Cara Asyik Bayu Widagdo Angkat Eksistensi Wayang

348
Muhammad Bayu Widagdo
Muhammad Bayu Widagdo

RADARSEMARANG.COM – KECINTAANNYA terhadap budaya Jawa, terutama wayang, sudah muncul sejak kecil. Bahkan saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Muhammad Bayu Widagdo sudah menjadi dalang cilik, membawakan wayang syahadat. Cerita wayang yang digunakan sebagai media dakwah.

Beranjak ke sekolah menengah, dirinya merasa banyak teman-temannya yang lebih menyukai lagu-lagu Barat, sementara dirinya menyukai kebudayaan Jawa.

”Saat itu mulai masuk musik seperti Duran Duran, kemudian New Kid on the Block. Sedangkan saya suka dengan wayang dan kebudayaan Jawa, sehingga seperti tidak nyambung gitu. Mereka bahkan tidak mengenal wayang yang saya sangat sukai,” kenang pria yang memang dibesarkan dalam keluarga seniman ini. Sang ayah, Dariono Hendry Soewignjo adalah seorang dalang, sementara sang ibu, Tri Warsini dan kakaknya adalah perias manten tradisional Jawa.

”Sampai kuliah saya kemudian ikut seni Jawa dan saya lihat di situ juga kontemporer, tidak Jawa yang murni,” imbuh pria yang membuka studio kaos lukis di rumahnya ini.

TULARKAN ILMU : Muhammad Bayu Widagdo bersama buah hatinya, Kinanthi Mustikaning Widya Hapsari.
TULARKAN ILMU : Muhammad Bayu Widagdo bersama buah hatinya, Kinanthi Mustikaning Widya Hapsari.

Kecintaannya pada budaya Jawa ini masih melekat sampai dirinya mengajar di tempat ia menimba ilmu, yakni di Universitas Diponegoro (Undip). Ketika mengajar, Bayu melihat banyak mahasiswa yang tertarik ketika dirinya bercerita tentang wayang. Hanya saja, para generasi muda ini kesulitan dalam hal bahasa.

Dari situlah, tercetus ide memperkenalkan wayang dengan kombinasi kekinian. Bayu kemudian menciptakan wayang batik. Pertunjukan wayang dengan iringan musik blues jazz, gabungan pentatonik dan diatonik. Penyampaian ceritanya pun dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Bukan untuk keluar dari pakem, Bayu hanya ingin apa yang disampaikan dapat dengan mudah diterima oleh kalangan anak muda.

”Di wayang batik ini, saya menampilkan wayang tidak secara mendetil dengan menggunakan bahasa pedalangan seperti halnya wayang klasik,” katanya.

Tidak hanya menampilkan sisi putih lawan hitam, di wayang Batik ini Bayu berusaha menunjukkan sisi abu-abu pada wayang. Bahwa apa yang selama ini selalu dianggap baik juga memiliki sisi buruk. Begitu pula sebaliknya. ”Di wayang Batik, ditunjukkan bahwa para Pandawa juga melakukan kecurangan,” jelasnya.

Tidak mudah mengenalkan seni tradisional di tengah perkembangan teknologi. Bukan kemudian menjauhi, keberadan teknologi ini justru dimanfaatkan Bayu untuk membuat seni tradisional dengan mudah diterima oleh kalangan anak muda.

”Sehingga saya tidak menolak musik elektrik pada wayang batik ini. Memanfaatkan teknologi untuk membuat manusia kembali menjadi manusia. Bukan membuat mereka tenggelam dalam teknologi,” ujar pria yang menjadikan Ki Narto Sabdo sebagai kiblat dalam Ndalang ini.

Tidak hanya melalui pertunjukan wayang batik saja, Bayu juga mengenalkan wayang kepada generasi muda melalui workshop pembuatan wayang batik dengan menggunakan duplex. Tidak hanya mengenalkan secara fisik, namun juga nilai-nilai yang ada di dalamnya.

”Saya hanya ingin menghindari mereka merasa bosan duluan. Saya ingin membuat mereka kenal dan selanjutnya bisa membawa mereka untuk ingin tahu bagaimana sih yang aslinya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengenalkan wayang melalui kaos lukis yang ia buat menggunakan pendekatan Pop Art dengan dasar bentuk wayang. ”Ini lebih simple dan lebih mudah untuk dikenal,” ujar dosen yang juga mengajar DKV ini.

Ke depan, ia ingin bersinergi dengan para pegiat seni budaya untuk menjaga kebudayaan Jawa agar bisa mentransformasikn kepada anak-anak muda. Sehingga, kebudayaan Jawa tidak hilang begitu saja. ”Tidak hanya yang tampak, tapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” harapnya. (sigit adrianto/zal)