EKSISTENSI BUDAYA JAWA: Muhammad Bayu Widagdo menuangkan kecintannya kepada wayang dalam sebuah kaos.
EKSISTENSI BUDAYA JAWA: Muhammad Bayu Widagdo menuangkan kecintannya kepada wayang dalam sebuah kaos.

RADARSEMARANG.COM – BANYAK hal yang membuat dirinya terkesan selama memperkenalkan wayang kepada generasi muda. Salah satunya ketika ia diundang untuk mengisi di Gisikdrono Semarang. Melihat antusias anak-anak untuk belajar tentang wayang, muncul ekspektasi di dalam dirinya bahwa wayang tidak akan pernah ditinggalkan. ”Yang perlu kita lakukan adalah berbuat,” tegasnya.

Kepada generasi muda, ia mengenalkan wayang dari hal yang paling sederhana, yakni mengajak mereka mewarnai wayang. Ia masuk dari hal yang disukai oleh anak-anak. Cara pengenalan wayang yang terbilang apik dari dosen strategi kreatif Undip ini.

HARMONIS : Muhammad Bayu Widagdo bersama sang istri, Nurina Dyah Larasaty Kinanthi dan buah hati.
HARMONIS : Muhammad Bayu Widagdo bersama sang istri, Nurina Dyah Larasaty Kinanthi dan buah hati.

”Tentu kita harus memulai dari yang mereka sukai. Itu akan mempermudah penyampaian kita,” katanya.

Hal-hal ini lah yang terus dilakukan Bayu untuk mempertahankan kebudayaan Jawa yang sangat dicintainya, terutama wayang. Satu hal yang patut diapresiasi adalah bahwa dirinya konsisten dalam melakukan semua ini.

Bayu tidak hanya membuat target jangka panjang untuk melakukan hal ini. Target jangka pendek juga tetap diperhatikan agar tidak lupa untuk melakukan aksi.

”Jangan sampai kita membuat target jangka panjang kemudian lupa bertindak. Pelan-pelan tapi arahnya jelas. Selangkah demi selangkah tapi konsisten,” kata dia.

Bayu yakin, kebudayaan Jawa tidak akan hilang atau dilupakan sepanjang masih ada upaya yang terus dilakukan. Untuk itu, dia selalu mengajak semua orang untuk melakukan upaya sedikit demi sedikit untuk tetap mempertahankan budaya yang menjadi identitas kolektif ini.

”Sepanjang ada keinginan dan upaya, saya yakin akan tercapai. Jadi jangan hanya dipikirkan saja,” kata Bayu.

”Jangan terlalu cengeng untuk kehilangan budaya. Ayook, kita yang mengaku penikmat, pecinta budaya kita lakukan upaya,” tegas dosen dengan kata mutiara Karye Naktyas Ing Sesami yang berarti membuat enak hati semua orang ini.

Bukan persoalan uang yang melatarbelakangi upaya demi upaya yang dilakukannya ini. Ia ingin apa yang dilakukannya ini bisa menjadi manfaat untuk orang-orang di sekitarnya.  ”Bukan rupiah, tapi bagaimana yang saya lakukan ini bisa mendapatkan berkah. Apa yang saya lakukan semoga bisa memiliki faedah,” tandasnya. (sigit adrianto/zal)