MENINJAU SAPI: Kumedi, Kadus Jetis yang juga anggota kelompok tani Tri Karya Tani Desa Ketanggi (belakang) dan Ahmad Munadi, pengelola sapi (depan) meninjau keadaan sapi-sapi yang ada di Desa Ketanggi
MENINJAU SAPI: Kumedi, Kadus Jetis yang juga anggota kelompok tani Tri Karya Tani Desa Ketanggi (belakang) dan Ahmad Munadi, pengelola sapi (depan) meninjau keadaan sapi-sapi yang ada di Desa Ketanggi

RADARSEMARANG.COM, SURUH – Desa Ketanggi memiliki sistem pertanian yang cukup bagus. Dikatakan oleh kepala Desa Ketanggi Sugiyarto, kelompok tani di desa ini memiliki sejumlah program seperti pemenuhan pupuk dan juga sistem tanam, yang mampu mendukung pertanian di Desa ini berjalan dengan baik.

Lebih lanjut, dikatakan olehnya, gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa ini juga memiliki semacam koperasi yang biasa disebut dengan PUAP, singkatan dari Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan. Melalui PUAP ini kelompok tani bisa memperoleh pinjaman untuk mengembangkan bisnis pertanian.

Sugiyarto (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sugiyarto (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

”Itu yang dikelola oleh gapoktan, kalau yang dikelola desa ada yang namanya Desa Berkembang. Semacam lembaga keuangan desa juga yang bertujuan untuk membantu dalam permodalan,” jelas kades yang sudah hampir menyelesaikan pembangunan fisik di wilayahnya ini.

Dirinya menambahkan, Pemerintah Desa akan selalu mendukung gapoktan agar pertanian warga bisa memilik hasil yang maksimal. Salah satu perhatian pemerintah desa kepada pertanian adalah dengan pembangunan jalur pertanian.

Selain memiliki sitem yang bagus, pertanian di Desa ini  maju juga karena adanya alat mesin pertanian (alsintan) yang dimiliki oleh kelompok tani. Alsintan yang dimiliki kelompok tani di desa Ketanggi adalah berupa mesin panen dan tanam modern yang berasal dari bantuan dana aspirasi.

Kumedi, kepala dusun Jetis yang juga merupakan anggota kelompok tani di desa ini mengatakan bahwa bantuan alat tanam dan panen yang lebih modern ini sedikit banyak bisa menyerap anak muda untuk mau berkecimpung di bidang pertanian.

”Karena ini yang mengoperasikan adalah anak-anak muda. Kalau di beberapa daerah kekhawatiran yang muncul adalah banyak anak muda yang tidak mau melanjutkan bertani, dengan alat ini sedikit membuka harapan untuk membuat anak-anak muda untuk mau bertani,” jelasnya.

Dengan adanya alat mesin pertanian ini, lanjutnya, juga memungkinkan ibu-ibu untuk melakukan proses pembenihan di rumah. Sehingga, kegiatan pertanian dapat dilakukan dengan lebih mudah dan efektif. ”Pembibitannya bisa dilakukan denan wadah-wadah di rumah. Kemudian pas siap ditana bisa dilakukan dengan mesin. Pengoperasionalannya dilakukan anak-anak muda itu tadi,” ujar kadus dengan menambahkan bahwa desa ini juga memiliki ketersediaan air yang bagus.

Sementara itu, gapoktan di desa ini juga memiliki usaha pengelolaan hewan ternak sapi. Terdapat sejumlah sapi lokal yang kotorannya dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik. Pupuk ini, selanjutnya digunakan oleh para petani di desa ini.

Ahmad Munadi, pengelola sapi gapoktan Desa Ketanggi mengatakan bahwa selain ada tempat untuk mengolah kotoran menjadi pupuk, di tempat peternakan juga terdapat tempat fermentasi pakan yang digunakan sebagai makanan cadangan untuk sapi-sapi yang ada. ”Jadi tetap ada ketersediaan pakan untuk sapi-sapi yang ada di sini,” ujar pria 49 tahun ini.

Diharapkan, Desa yang kini sedang mengkampanyekan Cuci Tangan Pakai Sabun ini bisa  semakin makmur dan sejahtera dengan pertanian yang bagus serta  PR pembangunan yang tidak terlalu banyak. (sga/bas)