RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kawasan tempat relokasi pedagang Johar di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akan segera dilewati Bus Transit Rapid (BRT) Trans Semarang. Selain itu, Dinas Perdagangan Kota Semarang saat ini juga tengah menyiapkan jalan tembus dan terminal untuk mendukung keberadaan tempat relokasi tersebut.

“Untuk jalan tembus, kami akan berkoordinasi dengan takmir Masjid Agung Jawa Tengah untuk membuka pintu masuk Masjid Agung Jawa Tengah dari arah utara. Pedagang minta ada jalan tembus ke Jalan Jolotundo, sekarang jalan di sana sudah jadi,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (22/12).

Dikatakannya, untuk penataan akses transportasi menuju ke kawasan relokasi MAJT tersebut, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Semarang. “Maret 2018 mendatang disiapkan Bus Rapid Transit (BRT) salah satu koridor agar rutenya melewati depan pasar relokasi tahap I dan II di kawasan MAJT ini. Itu bus baru, nanti jalurnya masuk areal masjid,” jelasnya.

Ada dua kemungkinan rute yang akan dilewati. Pertama, BRT tersebut akan masuk dari utara, yakni Jalan Arteri Soekarno-Hatta, kemudian melewati depan tempat relokasi, dan  masuk di areal MAJT. Di lokasi MAJT direncanakan akan diberikan transit. Setelah dari transit, kemudian menuju jalan tembus Jolotundo. Kemungkinan kedua, setelah dari transit MAJT, BRT tersebut kembali keluar menuju ke Jalan Arteri Soekarno Hatta. Saat ini masih dikaji oleh Dishub Kota Semarang.

“Yang jelas, BRT nanti melintasi tempat relokasi. Bisa diarahkan ke jalan tembus Jolotundo, atau bisa juga keluar lagi ke Arteri Soekarno Hatta. Nanti itu yang menata dari Dinas Perhubungan Kota Semarang,” kata Fajar.

Sedangkan saat ini sedang proses penyelesaian pembangunan tempat relokasi tahap II. Pembangunan dengan anggaran Rp 16, 1 miliar ini telah melewati masa kontrak, yakni 21 Desember 2017. Namun belum bisa selesai 100 persen. Pihak kontraktor PT Uno Tanoh Seuramu meminta perpanjangan selama tujuh hari ke depan untuk menyelesaikan pekerjaaan finishing.

“Pertengahan Januari persiapan pemindahan pedagang Pasar Yaik Baru segera dilakukan. Kami telah melakukan pertemuan dengan Paguyuban Pedagang Jasa (PPJ) Pasar Yaik Baru dan dipertemukan dengan Wali Kota Semarang. Mereka sudah sepakat. Yaik Baru sudah kosong keseluruhan pada bulan Maret,” ujarnya.

Pihaknya saat ini juga telah melakukan sosialisasi kepada pedagang dengan cara memberi pengumuman menggunakan MMT. Bahwa tempat relokasi tahap II di kawasan MAJT siap ditempati. “Hal itu agar pedagang bisa persiapan. Adapun mengenai pembagian lapak-kios, nanti kami serahkan ke PPJ Pasar Yaik Baru. Mereka akan menempati lahan 2,5 hektare di relokasi tahap II, kurang lebih mampu menampung 2.500 pedagang,” katanya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sebelumnya mengatakan, Pemkot Semarang segera menyiapkan tahap lanjutan pembangunan Pasar Johar Baru. Beberapa titik pembangunan di pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara ini akan berjalan secara pararel. Di antaranya, pembangunan gedung di lahan eks Kanjengan, Pasar Johar Cagar Budaya, dan selanjutnya dalam waktu dekat adalah perobohan Pasar Yaik Baru untuk segera dikembalikan sebagai alun-alun.

“Pedagang Pasar Johar di Yaik Baru ini kan harus pindah di MAJT, karena Yaik tahun depan (2018) sudah ada anggaran Rp 50 miliar. Lho, Pak Wali Kota janjinya dulu mau bangun cagar budaya dulu baru dipindah? Persoalannya begini lho, kita ini dapat berkah. Ada anggaran percepatan dari pemerintah pusat. Masak membangun harus menunggu dua tahun lagi lha wong dananya sudah ada,” kata Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Dikatakannya, pembangunan Pasar Johar Baru semakin cepat semakin baik. Sehingga persoalan pedagang Pasar Johar semakin cepat tuntas dalam waktu dekat. “Pedagang tidak terombang-ambing seperti hari ini di MAJT. Jadi, semua pihak harus memaklumi (relokasi) itu. Nanti ada penolakan dengan demo, ya monggo. Yang kami lakukan bukan untuk pribadinya Hendi. Saya, Hendi, tidak punya kios di Johar. Tapi, Hendi, sebagai wali kota berkomitmen bahwa Pasar Johar harus dibangun secepatnya,” ungkapnya menegaskan.

Orang nomor satu di Kota Semarang ini berjanji pembangunan Pasar Johar bisa diselesaikan 2019. Artinya, pembangunan terakhir di anggaran 2019 telah mampu dituntaskan. “Selesai bulan Desember 2019. Sehingga awal 2020 sudah bisa ditempati pedagang. Ini Bandung Bondowoso lho. Bayangkan nggak gampang lho nyari duit Rp 720 miliar itu. Nilai itu hanya untuk pembangunan Pasar Johar, makanya harus didukung,” katanya. (amu/aro)