Permintaan Parsel Tak Setinggi Lebaran

344
SIDAK: Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito bersama Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan mengecek sampel parsel secara acak. (PUPUT DWI APRILIA PUSPITASARI PUTRA/JAWA POS RADAR KEDU)
SIDAK: Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito bersama Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan mengecek sampel parsel secara acak. (PUPUT DWI APRILIA PUSPITASARI PUTRA/JAWA POS RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Permintaan parsel menjelang Natal dan Tahun Baru, diprediksi mencapai 500-600 paket. Jumlah ini lebih sedikit ketimbang momen Lebaran yang mencapai 2.000-an paket. “Rata-rata yang memesan dari perorangan,” kata Supervisor Supermarket Gardena Magelang, Agus Hariyanto, Kamis (21/12) kemarin, di sela menerima Wali Kota Sigit Widyonindito dan Kapolres Magelang Kota AKBP Kristanto Yoga Darmawan saat sidak ke swalayan tersebut.

Agus memastikan, produk yang mereka jual layak untuk dikonsumsi. Ia mengklaim, tiga bulan menjelang tanggal kedaluwarsa, barang-barang sudah ditarik. Terlebih, menjelang momen perayaan hari besar, Gardena mengklaim rutin mengecek barang.

Kehadiran Wali Kota Sigit Widyonindito ke Gardena untuk memantau berbagai kesiapan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2018. Sidak dilakukan usai orang pertama di Pemkot Magelang tersebut, mengikuti apel gelar pasukan Lilin Candi di Alun-Alun Kota.

Di toko swalayan tersebut, Sigit mengambil produk dan membongkar parsel secara acak. Hasilnya, tak ada produk yang mencurigakan. “Semua aman, tidak kedaluwarsa. Kemasannya juga masih bagus,” kata Sigit, di sela pantauan.

Sigit mengajak masyarakat untuk turut mengawasi produk yang dijual di supermarket maupun pasar tradisional. “Jika menemukan seperti itu (produk tak layak, Red) laporkan.” Jika benar ada kesengajaan menjual barang kedaluwarsa? “Sanksinya peringatan. Kalau perlu, sampai ditutup. Ini nggak main-main.”

Sigit meminta dinas terkait melakukan pengawasan intensif. Serta mengajak seluruh pedagang di toko modern maupun pasar-pasar tradisional agar tidak mempermainkan harga.

“Jangan sampai barang-barang itu tersumbat, kemudian jadi mahal. Tapi saya belum menerima laporan ini. Bagi masyarakat, harga terpaut Rp 1.000-2.000 itu sudah galau pikirannya. Itu harus kita jaga,” tuturnya. (put/isk)