BERDUKA: Sidik Tonys di samping foto mendiang istrinya, Elizabeth Sri Sukanti, eks jugun ianfu yang meninggal dunia pada usia 84 tahun. (IST)
BERDUKA: Sidik Tonys di samping foto mendiang istrinya, Elizabeth Sri Sukanti, eks jugun ianfu yang meninggal dunia pada usia 84 tahun. (IST)

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Elizabeth Sri Sukanti, 84, eks jugun ianfu paling muda pada masanya, meninggal dunia Rabu (20/12) malam. Jenazah telah dimakamkan di Pemakaman Umum Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.

Sri Sukanti nasibnya kembali mengemuka kala Staf Kedeputian V Kantor Staf Presiden Munajat menengoknya usai mengikuti acara di IAIN beberapa bulan lalu. Kala itu saat ditengok, kondisi Sri Sukanti memprihatinkan karena terbaring di rumah dalam kondisi sakit dan dibawa ke RSUD untuk mendapatkan perawatan medis.

Suami Sri Sukanti, Sidik Tonys, 74, menuturkan, sejak 4 bulan yang lalu, istrinya mengalami sakit parah. Tidak bisa berbicara, tidak bisa melihat. Bahkan ia hanya makan garam yang ditaruh di sendok terus dikasih susu. Kalau mau minta minta makan, hanya minum susu dengan cara disuapi.

Sidik mengaku, sebelum Sri Sukanti meninggal, sekitar empat hari lalu didatangi orang dari Korea Selatan. Kedatangan orang Korea Selatan tersebut bermaksud mencari tahu cerita Sri Sukanti dan menyampaikan keinginannya akan membuat film dokumenter.

Sementara itu, Munajat yang mendapatkan kabar meninggalnya Sri Sukani dari koran ini terkejut. Ia kebetulan sedang dalam perjalanan pulang ke Salatiga.

Ia mengatakan, Sri Sukanti dulu merupakan jugun ianfu atau perempuan yang dipaksa melayani tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. “Berdasarkan dokumen dari aktivis, Mbah Sri ini merupakan jufun ianfu termuda se-Asia Tenggara. Pada masa penjajahan Jepang 1942-1945, saat itu usia Mbah Sri baru 9 tahun,” kata Munajat usai melayat di rumah duka Jalan Umbulrejo, Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir.

Munajat mengaku mendapatkan data tentang Sri Sukanti dari teman-teman aktivis. Bahkan sebelum Sri Sukanti meninggal, ia telah beberapa kali berkunjung di rumah sederhana tersebut. Kendati demikian, ia pun tidak bisa memperoleh informasi banyak dari Sri Sukanti karena faktor usia.

“Para jufun ianfu itu, pada masanya diambil secara paksa oleh tentara Jepang. Setelah kembali ke masyarakat, mereka ini masih menanggung beban,” ujar Munajat. (sas/ton)