33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Pemprov Minim Perhatian Lingkungan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Indeks kualitas lingkungan hidup di Jawa Tengah, sesuai data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan tren penurunan. Hal tersebut diungkapkan anggota DPR RI, Abdul Fikri Faqih.

Indeks yang menggunakan indikator kualitas air sungai, kualitas udara dan tutupan hutan ini menempatkan Jateng, pada tahun 2009 di urutan ke 20, tahun 2010 urutan ke 25 dan tahun 2011 di urutan ke 28 dari 34 provinsi di Indonesia. “Ini harus disikapi dan menjadi perhatian serius,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa kondisi tersebut diperparah dengan program pembangunan yang cenderung dianggap mengabaikan aspek perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sehingga Jateng termasuk provinsi yang rawan banjir, tanah longsor, kekeringan dan bencana lingkungan lainnya.

“Bencana tersebut, terjadi akibat dari terlampauinya daya dukung dan daya tampung lingkungan,” ujar Wakil Ketua Komisi X, itu.

Dalam kurun waktu 2002 – 2012 Jateng hanya mengalokasikan rata-rata 0.34 persen dari APBD per tahun. Jika dibandingkan dengan anggaran lingkungan negara ini tentu sangat kecil karena rerata anggaran lingkungan nasional adalah 1 persen dari APBN.

UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 45 mewajibkan pemerintah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk program pembangunan yang berwawasan lingkungan. “Tapi mengapa UU ini tidak mendapatkan perhatian serius di Jateng?,” ujarnya.

Menurutnya, Pemprov Jateng harus fokus terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Diawali dari proses penyusunan anggaran berbasis lingkungan yang dikawal lewat musrenbang di jalur eksekutif dan lewat masa reses di jalur legislatif. Selain itu harus melibatkan secara aktif pemeran serta resmi yang ada di DPRD. Perlu ada terobosan baru yang disebut Comprehensive, Focused and Participatory Budgeting Process (CFPBP).

“Jika selama ini proses penyerapan aspirasi cenderung formalitas, sekarang harus didukung dengan regulasi yang jelas berupa Perda ataupun Pergub yang mengatur secara mandatory pelibatan mereka (pemerhati lingkungan) untuk secara aktif mengawal setiap anggaran di setiap SKPD sesuai dengan aspirasi yang berkembang berasal dari masyarakat,”

Dengan konsep tersebut, usulan untuk menyempurnakan proses pembicaraan pendahuluan dilakukan sebelum menyusun RAPBD dilengkapi dengan proses penelusuran lewat dokumen pernyataan anggaran lingkungan hidup yang mendampingi RKA-SKPD. Hal itu, kata Fikri bisa menyelamatkan Jateng dari bencana lingkungan. “Model inilah yang dipercaya bisa menyelamatkan Jateng dari bencana lingkungan dengan menerapkan kebijakan anggaran yang berbasis lingkungan,” tandasnya. Kemarin (20/12), Abdul Fikri Faqih mendapatkan gelar Doktor Ilmu Lingkungan Undip Semarang dengan disertasinya membahas soal penyelamatan lingkungan melalui anggaran. (fth/hid/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pekerja Migran Harus Miliki Skill Mumpuni

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Tingginya persaingan dunia kerja di luar negeri menyebabkan para calon pekerja migran Indonesia (CPMI) formal dituntut memiliki skill yang mumpuni agar mampu merebut peluang...

Kembangkan Pusat Unggulan Inovasi

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Institut Pertanian Stiper (Instiper) Jogjakarta diminta untuk mewujudkan pusat unggulan inovasi dibidang pertanian. Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenristekdikti,...

Jelang Lebaran, Toko Emas Diserbu Pembeli

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Menjelang lebaran, sejumlah toko emas dan bank di wilayah Kabupaten Pekalongan diserbu pembeli dan nasabah, oleh karena itu mulai Senin (11/6)...

Kondisi Mobil Damkar Tak Layak

WONOSOBO–Kabupaten Wonosobo terbilang wilayah dengan tingkat kebakaran cukup tinggi. Data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo sejak April-September 2017, sedikitnya terjadi 14...

Dieng Cultur Festival Dievaluasi Menyeluruh

RADARSEMARANG.COM, BANJARNEGARA - Dieng Culture Festival (DCF) ke-9 yang baru saja usai dilaksanakan 3-4 Agustus bakal dievaluasi secara menyeluruh. Pasalnya, pergelaran event wisata ini...

Siap Bersaing di Kelas Adventure

SEMARANG – PT Astra Honda Motor (AHM) terus memperkuat penjualan motor jenis adventure, kali ini mereka meluncurkan All New Honda CRF150L dengan desain dan performa...