PELUNCURAN : Ketua Komisi Dakwah MUI Jateng yang juga Pimpinan Mualaf Centre, Drs Anasom M.Hum di sela acara peluncuran Mualaf Centre MUI Jateng di Hotel Pandanaran, Semarang, kemarin. (ISTIMEWA)
PELUNCURAN : Ketua Komisi Dakwah MUI Jateng yang juga Pimpinan Mualaf Centre, Drs Anasom M.Hum di sela acara peluncuran Mualaf Centre MUI Jateng di Hotel Pandanaran, Semarang, kemarin. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng menginisiasi pendirian Mualaf Centre sebagai pusat pembinaan bagi warga yang terpanggil untuk beragama Islam. Menyusul semakin banyaknya masyarakat yang tertarik dengan Islam, namun belum ada lembaga resmi yang mendampingi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Dakwah MUI Jateng yang juga Pimpinan Mualaf Centre, Drs Anasom M.Hum di sela acara peluncuran Mualaf Centre MUI Jateng di Hotel Pandanaran, Semarang, kemarin. Yakni dalam acara Halaqah Dakwah, Menjawab Tantangan Dakwah di Jawa Tengah Melalui Sosialisasi Pedoman Dakwah dan Islam Washatiyah yang dilaksanakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Jateng bekerjasama dengan PT AXA Mandiri Financial Services Unit Syariah.

“Mualaf Centre ini akan berpusat di Masjid Baiturrahman yang menyediakan konsultasi dan pembinaan. Selain disediakan modul dasar tentang agama Islam juga ada 25 tokoh agama yang standby,” tandas Anasom.

Menurutnya, berdasarkan data Kantor Urusan Agama (KUA) Kota Semarang, khusus di tiap kecamatan di Kota Semarang rata-rata ada sekitar 30 orang yang tertarik beragama Islam. Karena itu, Mualaf Centre juga akan melakukan kerjasama dengan para penyuluh agama di Kota Semarang.

“Sementara ini, data di KUA memang karena alasan nikah. Namun yang karena mendapatkan hidayah juga cukup banyak. Ini baru Kota Semarang, belum kabupaten/kota lain di Jawa Tengah,” katanya.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat, KH Kholil Nava mengapresiasi peluncuran Mualaf Centre tersebut. Bahkan, pihaknya akan mengusulkan menjadi program MUI Pusat yang diadopsi dari MUI Jateng. “Kami selama ini tak punya lembaga yang mengurusi mualaf secara khusus. Program yang baik dari daerah, bisa diambil untuk menjadi progran nasional,” katanya.

Sedangkan Ketua MUI Jateng, KH A Darodji menyatakan bahwa umat Islam harus bisa memahami Islam yang dibawa oleh nenek moyang atau para ulama. Misal di Kudus, tak ada yang mengharamkan sapi. Namun karena perjanjian dengan masyarakat Hindu, maka orang Islam di Kudus tak ada yang menyembelih sapi.

Ditambahkan KH Kholil bahwa Islam Washatiyah atau Islam Moderat yang diusung MUI meliputi 3 hal. Yakni, proses pembimbingan, pemahaman dan penguatan. “Banyak orang menjadi dai di televisi tanpa standar yang jelas. Maka ke depan, harus ada rekomendasi MUI siapa yang bisa menjadi dai di televisi. Hal ini agar masyarakat tak lepas dari akidah dan paham yang menyimpang,” tandasnya. (ida)