Dinas kesehatan Kota Semarang telah melakukan upaya untuk penurunan jumlah kasus dan kematian akibat penyakit Leptospirosis dengan mengimbau kepada seluruh Puskesmas dan rumah sakit untuk melakukan respon cepat dalam penemuan kasus, penegakkan diagnosa, dan antisipasi peningkatan kejadian Leptospirosis terkait intensitas curah hujan di Kota Semarang sejak bulan September yang cenderung tinggi. Kerjasama lintas sektor dan lintas program terkait dalam pelaksanaan pengendalian dan penanggulangan penyakit ini di juga sudah dilakukan serempak dengan istilah kegiatan “Bulan pengendalian Leptospirosis” yang dilaksanakan pada bulan September, dengan kegiatan penyuluhan ke masyarakat dengan target 177 kelurahan, dan kegiatan sehari membunuh tikus.

Pencegahan Leptospirosis dapat dilakukan secara perorangan. Perlu diperhatikan jika ada luka di tubuh kita, tutuplah luka dan lecet dengan balut kedap air, supaya bakteri tidak masuk melalui luka. Pakailah pelindung seperti sepatu boot. Apabila akan kontak dengan air dan tanah yang dicurigai tercemar kencing tikus, misalnya pada situasi banjir, pakailah sarung tangan jika menangani hewan. Mandilah sesudah bekerja dan cuci tangan dengan sabun. Jangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin terinfeksi Leptospirosis.

Untuk membangun kesadaran masyarakat, perlu adanya pengenalan serta sosialisasi upaya penanggulangan penyakit ini. Untuk itu saat ini dikembangkan konsep “One Health”, yaitu konsep yang dikembangkan oleh multidisiplin ilmu dan lintas sektor yang terintegrasi untuk mencapai kesehatan yang optimal pada manusia, binatang, dan lingkungan yang optimal, dalam upaya pencegahan penyakit zoonosis. Konsep one health akan mendorong kemitraan antara dokter dan dokter hewan menuju penelitian dan surveilans yang lebih baik di bidang zoonotik dan penyakit-penyakit baru muncul (emerging and re-emerging zoonosis). (*)

Mahasiswa Program Studi Magister Epidemiologi, Konsentrasi Epidemiologi Lapangan Sekolah Pasca Sarjana UNDIP