Jaksa Ajukan Banding atas Vonis 9 Taruna

401

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Jaksa gabungan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang akhirnya mengajukan banding atas perkara yang menjerat sembilan terdakwa taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang diduga melakukan pengeroyokan hingga menyebabkan tewasnya Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam.

Hal tersebut disampaikan Kasi Penerangan hukum Kejati Jateng, Sugeng Riyadi. Adapun kesembilan terdakwa tersebut adalah Joshua  Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray, Praja  Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto dan Hery Avianto.

“Untuk 9 terdakwa sudah kami koordinasikan dengan bidang Pidana Umum (Pidum) dan kami menyatakan mengajukan banding,”kata Sugeng Riyadi saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (19/12)

Sedangkan untuk kelima terdakwa lainnya, yakni Rinox Lewi Wattimena, Christian Atmadibrata Sermumes, Gibrail Charthens Manorek, Martinus Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury Al Jordi, dikatakan Sugeng, pihaknya masih pikir-pikir untuk berkoordinasi dengan pimpinan, karena masih cukup waktu. “Yang lima lagi, sementara masih pikir-pikir. Nanti perkembangannya kami beritahu,”ujarnya.

Kuasa hukum Joshua  Evan Dwitya Pabisa, Broto Hastono, mengaku, telah mengetahui upaya banding jaksa tersebut. Pihaknya menyatakan tetap pada pembelaan semula. Ia menegaskan, kalau KUHP pasal 170 ayat 1 tentang pengeroyokan tidak dapat diterapkan dalam perkara tersebut. Sehingga, menurutnya, putusan yang tepat adalah bebas atau setidak-tidaknya lepas.

“Padahal sejak putusan dijatuhkan di tingkat pertama para terdakwa sudah menyatakan tidak mengajukan banding, karena majelis hakim menganggap pidana yang dijatuhkan adalah sebagai pembinaan,  tetapi mengapa jaksa harus banding, padahal tidak ada alasan hukum yang mendasar,”kata Broto Hastono saat dikonfirmasi koran ini.

Terpisah, Koordinator Komunitas Peduli Hukum (KPH) Semarang, MF Yanwar, mengaku prihatin atas kasus tersebut. Ia melihat seolah ada perlakuan istimewa dibandingkan dengan kasus penganiayaan yang menimpa warga biasa tanpa pangkat dan kedudukan. Namun demikian, ia tidak ingin berandai-andai lebih jauh. Menurutnya, hukum paling adil adalah hukum akhirat.

Sebelumnya, majelis hakim PN Semarang yang dipimpin Casmaya, didampingi dua hakim anggota, yakni Edy Suwanto dan Suparno, manjatuhkan pidana selama enam bulan penjara terhadap 9 terdakwa. Sedangkan satu terdakwa Rinox, oleh majelis hakim yang dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo divonis pidana selama 7 bulan penjara.

Berbeda dengan Christian yang divonis pidana selama 1 tahun. Sedangkan hikuman yang lebih rendah dijatuhkan kepada tiga terdakwa lainnya, yang divonis pidana selama 6 bulan 20 hari. Keempatnya divonis majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono. (jks/aro)