MENDOMINASI : Atlet dari PB Daya Manunggal Mungkid Kabupaten Magelang berfoto bersama pelatih muda Reza Budihara dan orangtua atlet usai tampil mendominasi kejuaraan Kejurkab Bupati VII Magelang tahun 2017. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
MENDOMINASI : Atlet dari PB Daya Manunggal Mungkid Kabupaten Magelang berfoto bersama pelatih muda Reza Budihara dan orangtua atlet usai tampil mendominasi kejuaraan Kejurkab Bupati VII Magelang tahun 2017. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

MUNGKID – Meskipun Perkumpulan Bulutangkis (PB) Daya Manunggal Mungkid Kabupaten Magelang terbilang klub baru yang berdiri pada 2015 silam, namun berbagai prestasi telah diukir klub yang bermarkas di GOR Yudhistira Bumirejo Mungkid tersebut. Bahkan beberapa kali atlietnya mampu menembus Kejurprov Jawa Tengah.

Atlet-atlet muda berbakat seperti Raehan Bagus, Khafi Tirtasena, Rahmania, dan Salma Mufida sudah seringkali mengikuti kejuaraan di tingkat kabupaten maupun Kota Magelang. Bahkan nama yang disebut terakhir, Salma Mufida, sudah menjuarai Kejurprov Jateng sebagai juara I tunggal usia dini putri.

Kesuksesan para atlet tersebut tak lepas dari tangan dingin pelatih muda asal Grabag, Reza Budihara. Sang pelatih yang pernah mencicipi ketatnya persaingan di Sirkuit Nasional (Sirnas) ini tahu betul bagaimana melatih, mendidik dan menciptakan suasana kekeluargaan di dalam home base PB Daya Manunggal. Pola latihan keras yang diterapkan Reza, benar-benar didukung oleh orangtua atlet.

“Untuk pola latihan di Daya Manunggal, sehari bisa 4-5 jam. Dalam seminggu, kita bisa latihan sekitar 10 kali. Latihan keras ini sangat penting karena mempersiapkan stamina para atlet,” jelas Reza.

Sistem pola latihan keras sudah menjadi menu yang ditawarkan pihaknya kepada para orangtua yang berkeinginan memasukkan putra-putrinya ke PB Daya Manunggal. Reza mengungkapkan, masalah biaya adalah masalah kesekian dan disampaikan pula ke orangtua. “Klub ini berdiri atas ikatan kebersamaan, jadi orangtua juga mempunyai peran yang sentral. Kami menciptakan suasana kekeluargaan di sini. Ikatan kekeluargaan orangtua atlet satu sama lain terjalin dengan baik,” papar Reza.

Selain itu, pihaknya juga mempersiapkan atlet-atlet baru yang siap menggantikan para seniornya yang dipredksikan pindah kelas setiap tahunnya. “Kita menyiapkan calon atlet pengganti agar nantinya siap saat naik kelas. Kami juga sering mengikutsertakan atlet kami untuk mengikuti setiap kejuaraan dengan meminta pertimbangan orangtua,” imbuh Reza.

Meski terbilang cukup keras dalam melatih 40 atlet yang bernaung di PB Daya Manunggal, langkah tersebut didukung para orangtua atlet. Orangtua atlet Khafi Tirtasena, Dwi, mengaku enjoy dalam cara pelatih mendidik anaknya. “Khafi mampu mengikuti ritme latihan. Khafi juga sangat enjoy dan tidak merasa berat. Karena memang menu latihan di Daya Manunggal diarahkan menjadi atlet profesional. Bahkan ada menu latihan tambahan, yaitu latihan privasi bagi yang mau. Khafi ikut menu latihan ini, cukup berat tapi enjoy,” jelas Dwi.

Sementara orangtua atlet Salma Mufida, Juwari dan Dwi Setyawati mengatakan hal yang sama. Latihan keras yang diimbangi kekompakan antara atlet, pelatih dan orangtua atlet membuat PB Daya Manunggal mampu menelurkan atlet. “Kita tetap dukung langkah dari klub. Kami juga berterimakasih kepada klub karena mampu melatih Salma hingga bisa seperti sekarang,” jelas Dwi Setyawati. (cr3/sct/ton)