Hendi: Santri Identik dengan Kesantunan

481
DAGONGAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyaksikan pertandingan dagongan antar santri usai membuka Pospeda di Ponpes Al Uswah Kelurahan Pakeintelan Gunungpati. (Humas for Jawa Pos radar semarang)
DAGONGAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyaksikan pertandingan dagongan antar santri usai membuka Pospeda di Ponpes Al Uswah Kelurahan Pakeintelan Gunungpati. (Humas for Jawa Pos radar semarang)

SEMARANG- Sebanyak 374 santri dari 20 pondok pesantren (Ponpes) di Kota Semarang berkumpul di lapangan Ponpes Al Uswah, Desa Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Senin (18/12). Mereka berkumpul untuk berpartisipasi pada Pekan  Olahraga Seni dan Olahraga Pondok Pesantren (Pospeda) 2017 tingkat Kota Semarang. Gelaran tersebut mengusung tema Dengan Pospeda, Menjadi Santri Sportif dan Santun.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, yang mendapatkan kesempatan untuk membuka ajang kompetisi para santri tersebut mengatakan, jika tema Pospeda tersebut menjadi penegasan identitas para santri.

“Santun dan sportif adalah dua hal yang identik dengan seorang santri, saya rasa kita semua sepakat dengan ini,” tegas wali kota yang akrab disapa Hendi ini.

Menurut Hendi, hal tersebut merupakan representasi pendidikan di pondok pesantren yang selalu mengajarkan para santri untuk menjadi pribadi yang santun dan tawadhu.

“Sehingga wajar saja kalau santri selalu unggul di berbagai bidang, karena sikap santun dan tawadhu tersebut menjadi pintu bagi para santri untuk membuka diri terhadap hal-hal positif dalam mengembangkan diri,” katanya.

Selain membuka kegiatan Pospeda 2017 tingkat Kota Semarang, Hendi juga sempat didapuk menjadi wasit pertandingan Dagongan, sebuah olahraga tradisional seperti tarik tambang menggunakan bambu. Namun berbeda dengan tarik tambang, bambu dalam olahraga dagongan tidak ditarik melainkan didorong.

“Di Pospeda ini ada kearifan lokal yang ditonjolkan, dari sini kita bisa melihat besarnya komitmen para santri dalam meletakkan nilai-nilai kekhasan Indonesia dalam berbagai kegiatan,” jelas Hendi.

Ketua Yayasan Ponpes Al-Uswah, Muhammad Toyib Farchani, menegaskan, jika santri adalah anak bangsa pengawal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (PBNU). “Islam kita adalah Islam nusantara,” tegas Muhammad Toyib. (zal/aro)