2017 Bukan Tahun Properti

1237
MENINGKAT: Penjualan unit rumah di pameran Property Expo Semarang di Mal Ciputra pada 20 – 31 Juli lalu menunjukkan peningkatan dibanding beberapa pameran sebelumnya (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG).
MENINGKAT: Penjualan unit rumah di pameran Property Expo Semarang di Mal Ciputra pada 20 – 31 Juli lalu menunjukkan peningkatan dibanding beberapa pameran sebelumnya (NURUL PRATIDINA / JAWAPOS RADAR SEMARANG).

“Selama empat tahun belakangan, dari pameran yang kami gelar sepanjang tahunnya, tahun 2017 ini paling rendah,”

Dibya K Hidayat, Ketua Property Expo

SEMARANG – Tahun 2017 boleh dibilang bukan tahunnya untuk sektor properti. Karena selama empat tahun belakangan, penjualan rumah di tahun ini yang paling minim.

Ketua Property Expo, Dibya K Hidayat mengatakan, pola transaksi penjualan rumah selama empat tahun belakangan kurang bagus, karena terus mengalami penurunan. Yaitu dari 1.007 unit pada tahun 2014, menjadi 61 unit pada tahun 2015, kemudian menurun lagi menjadi 295 unit pada tahun 2016 dan semakin menurun di tahun ini dengan total penjualan hanya mencapai 376 unit.

“Selama empat tahun belakangan, dari pameran yang kami gelar sepanjang tahunnya, tahun 2017 ini paling rendah,” ujarnya disela penutupan Property Expo di Mal Ciputra Semarang, kemarin.

Menurutnya, penurunan penjualan salah satunya disebabkan kian melambungnya harga tanah dan bahan bangunan. Hal tersebut tak diimbangi dengan meningkatnya pendapatan sebagian generasi saat ini.

“Kalau pasarnya jelas tidak jenuh, karena hunian sebuah kebutuhan. Maka pasarnya akan selalu ada, selama masih ada pertumbuhan penduduk. Masalahnya ada atau tidaknya daya beli masyarakat,” ujar Dibya.

Untuk pasar sendiri, lanjutnya, terbesar berada di segmen harga di bawah Rp 500 juta. Namun demikian, untuk rumah non subsidi dengan dengan tipe menengah, merealisasikan harga di bawah Rp 500 juga menurutnya cukup sulit mengingat harga tanah yang terus melonjak.

“Tahun-tahun sebelumnya penjualan terbanyak ada di kisaran harga di bawah Rp 500 juta. Tahun ini terbanyak justru penjualan di atas Rp 750 juta. Hal ini karena yang harga yang di bawah Rp 500 juta, produknya hanya sedikit,”ujarnya

Oleh karena itu, sejumlah pengembang mulai melakukan evaluasi untuk strategi pemasaran di tahun depan. Kemungkinan besar, pengembang akan menyesuaikan ukuran rumah agar harga dapat masuk di bawah Rp 500 juta.

“Karena pasar yang besar di kisaran harga tersebut, maka pengembang ke depan akan membangun di pasar tersebut. Salah satunya ya dengan menurunkan luas tanah dan mengecilkan ukuran bangunan,” ujarnya. (dna/ric)

Silakan beri komentar.