16 Penambang Tertimbun Longsor, Delapan Tewas

416

MUNGKID—Muh Haryono, mengaku tidak akan pernah lupa kejadian tanah longsor yang menimpa belasan orang terjadi di depan matanya. Seperti mimpi. Dia melihat tebing setinggi 75 meter itu roboh dan menimpa rekan-rekannya sesama penambang manual. “Saya seperti tidak percaya.Soalnya tidak hujan tidak ada angin,” kata Haryono, saat ditemui di RSUD Mutilan, Senin (18/12) sore kemarin.

Longsoran material itu hampir juga mengenai dirinya. Padahal, jarak dia dari titik nol longsoran, kurang lebih 30 meter. “Begitu longsor, saya langsung lari,” ucapnya. Dia bersyukur tak tertimpa longsoran berupa pasir dan bebatuan. Padahal, awalnya Haryono ingin menambang di lokasi yang sama dengan rekan-rekannya.

Bukan tanpa alasan rekan-rekannya menambang di bawah tebing yang membahayakan. Sebab, sebelum kejadian, tebing tersebut sudah longsor pada malam harinya. Sehingga akan lebih mudah mengambil material pasir dan batu di sana. “Itu kan nekas longsor tadi malam (Minggu malam, 17/12), tapi tidak besar. Jadi lebih gampang menaikkan pasirnya. Kami awalnya mau di sana, tapi sudah penuh. Kita jadi geser ke lokasi yang agak jauh,” ucap Haryono.

Mugiono, saksi mata kejadian menuturkan, peristiwa longsor berlangsung cepat. Tidak ada tanda-tanda apapun, hingga akhirnya tebing setinggi 75 meter itu longsor. “Tiba-tiba saja longsor, tidak ada tanda-tanda sedikitpun. Suaranya menggelegar,” kata pria yang juga bekerja sebagai penambang manual.

Menurut Mugiono, pada saat kejadian, semua penambang sedang menggali pasir di bawah tebing. Mereka tidak sadar, jika tebing yang berisikan material bebatuan dan pasir ambrol. Peristiwa tersebut, ucap Mugiono, terjadi sekitar pukul 10.00. Para penambang belum lama beraktivitas menaikkan pasir ke dalam truk.

Seperti diketahui, kawasan penambangan galian C gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Senin (18/12) pagi, pukul 10.00, kembali memakan korban jiwa. Sebuah tebing di kawasan Ngudi Lestari berbatasan dengan Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, longsor. Material longsor menimpa belasan penambang di bawahnya.

Hingga berita ini ditulis pukul 20.00 tadi malam, 16 penambang dilaporkan tertimbun material longsor. Delapan orang tewas, sedangkan sisanya mengalami luka-luka. Diduga kuat, masih ada korban lain, sehingga proses evakuasi masih terus berlangsung.

Data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, korban meninggal diidentifikasi sebagai Zainudin, Iwan, Yuni Supri, Muhammad, Heri. Kelimanya Warga Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Korban tewas lainnya, Parno, Martono, dan Sumarno. Ketiganya warga Desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Delapan korban tersebut tertimbun material antara dua hingga empat meter. Ada juga korban yang tubuhnya mengalami rusak parah akibat tertimpa material bebatuan. “Ada yang badannya patah separo,” kata salah satu petugas RSUD Muntilan. Seluruh korban sudah berada di RSUD Muntilan untuk keperluan identifikasi. Keluarga korban juga mulai berdatangan untuk memastikan identitas korban.

Sedangkan korban luka Haryoso, 30; dan Aswari, 22. Keduanya warga Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag. Juga Royani, 31; Samsuri, 30; warga Njamblangan, Desa Bringin. Lalu, Nur Kholik, 20; Herman, 27; dan Sukaedi, 34; warga Desa Tirto, Kecamatan Grabag. Berikutnya, Suyanto, 37, warga Gentingan Godean, Kabupaten Sleman, DIY. “Korban berat mengalami luka patah kaki hingga tangan. Kebanyakan mereka juga terkubur, tapi masih bisa menyelamatkan diri,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edy Susanto.

Selain mengubur belasan penambang, longsoran juga menimbun dua truk penangkut pasir. Yakni, truk nopol B 9406 BGD dan truk nopol AA 1573 ME. Melihat rekan-rekannya jadi korban longsor, sejumlah penambang di lokasi tersebut langsung bereaksi. Mereka melakukan evakuasi dengan peralatan seadanya. “Tadi pas ngangkat ada yang kakinya tertindih batu besar,” kata Mugiono, korban selamat.

Kepala BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto menyampaikan, sebelum longsor pada Senin (18/12) pagi, pada malam harinya sudah terjadi longsor susulan. “Jadi, sebelumnya memang sudah terjadi tanah longsor di sana,” kata Edy. Pihaknya mengaku sudah berkali-kali memperingatkan para penambang agar tidak melakukan aktivitas penambangan di bibir tebing. Karena kontur tanah dan tebing di kawasan Merapi sangat labil dan membahayakan. “Sekali lagi, kita sudah sering mengimbau. Cuma kita mengalami keterbatasan pengawasan ya,” akunya.

Sementara itu, Polres Magelang terus melakukan penyelidikan kasus longsornya tebing setinggi 75 meter di lokasi penambangan kawasan Ngudi Lestari, berbatasan dengan Desa Kaliurang Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Sebab, diduga masih ada korban lain yang terkubur material longsor. Kapolres Magelang AKBP Hari Purnomo mengatakan, pihaknya masih memeriksa para saksi di lokasi kejadian. Informasi yang diperoleh, masih ada empat orang lain yang belum ditemukan.

“Informasi yang kita himpun diduga masih ada empat orang yang tertimbun material longsor. Tapi masih kita lakukan pendalaman,” kata AKBP Hari di sela-sela evakuasi. Proses pencarian masih akan terus dilakukan oleh tim gabungan TNI, Polri, dan BPBD serta relawan. “Masih kita telusuri,” papar dia. Kapolres mengatakan, pihaknya berharap masyarakat membantu memberikan informasi kepada kepolisian. Supaya bisa ditelusuri kepastian ada tidaknya korban lain. “Jika ada informasi, bisa segera kita sampaikan.” (vie/isk)