SEDIMENTASI TINGGI : Kondisi Sungai BKT yang sangat lebar, namun hanya sebagian kecil yang dialiri air. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEDIMENTASI TINGGI : Kondisi Sungai BKT yang sangat lebar, namun hanya sebagian kecil yang dialiri air. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Rencana pembangunan dan normalisasi sungai Banjir Kanal Timur (BKT) sudah melalui beberapa tahap. Namun sampai sekarang belum juga direalisasikan, padahal anggaran sudah ada. Mengapa?

BANJIR akibat luapan air Sungai BKT, selalu membuat warga Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari khawatir. Terutama saat musim penghujan dengan intensitas hujan deras di daerah atas, Kabupaten Semarang, seperti akhir-akhir ini.

Sebagaimana dirasakan oleh Jumarno, salah satu warga Sawah Besar. Pasalnya, daerah yang sudah ditempatinya puluhan tahun ini, kerap diterjang banjir akibat luapan sungai BKT. “Warga sini sudah kenyang dengan banjir. Sebenarnya ya resah, kalau musim hujan datang. Sebab kalau daerah atas hujan deras, meski sini tidak deras, sudah bisa dipastikan airnya luber,” katanya, Minggu (17/12) kemarin.

Ironisnya, luapan air sungai kerap melanda warga di malam hari. Luapan air tersebut menyebabkan kerugian materiil yang begitu banyak, utamanya barang elektronik rusak terendam banjir. “Ya kalau datangnya banjir secara tiba-tiba, warga tidak sempat menyelamatkan barang. Televisi rusak, perabotan rusak juga,” katanya.

Menurutnya, luapan air sungai BKT karena tingginya sedimentasi sungai tersebut. Bahkan lebar kawasan sungai BKT yang berpuluh-puluh meter tersebut, hanya berisi air selebar 7 sampai 8 meter. Itupun sangat dangkal.

“Sungai BKT ini sebenarnya lebar. Tapi yang dialiri air, tidak sampai 10 meter lebarnya. Sebab, sedimentasi disini sangat lebar dan tinggi. Kalau banjir ya sudah tak terhitung. Setahun bisa terjadi banjir berkali-kali. Kalau pas musim hujan, bisa sebulan sekali banjir,” ujarnya.

Selain tingginya sedimentasi, aliran air Sungai BKT juga tidak lancar mengalir ke muara. Terutama aliran air yang berada di bawah Jembatan Kaligawe tersumbat tumpukan sampah. Hal ini juga menjadi keluhan warga lantaran penanganan sampah terkadang terlambat.

“Sampah kalau sudah menumpuk, menyebabkan bumpet (tersumbat, red), air tidak mengalir lancar. Kadang penanganannya ya terlambat, kalau sudah banjir baru dikeruki (dibersihkan),” bebernya.