SALATIGA- Plt Kepala DKK Salatiga Siti Zuraidah mengklaim penanggulangan HIV/AIDS di Salatiga cukup berhasil. Salatiga sudah keluar dari peringkat 10 besar dalam jumlah penderita HIV/AIDS di Jateng. Bahkan sebelumnya, Salatiga masuk 5 besar.

“Sejak tahun 2006 DKK Salatiga melaksanakan program pencegahan kepada semua kelompok risiko tinggi. DKK juga telah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dalam sosialisasi kepada siswa baru sejak tahun 2006 silam,” terang Siti.

Program pencegahan kepada semua kelompok risiko tinggi meliputi pencegahan, pengobatan atau perawatan serta rehabilitasi dan monitoring evaluasi (monev). “Pencegahan melalui sosialisasi dan pemeriksaan dini, berupa screening infeksi menular seksual (IMS) dan pemeriksaan HIV melalui voluntary conseling and testing (VCT).

Ditambahkan dia, untuk kegiatan survei atau pengamatan terhadap kelompok risiko tinggi, yaitu terhadap pekerja seks, waria, homoseksual dan lelaki mobile dilakukan secara terus menerus hingga sekarang.

Sejak kali pertama ditemukan di Salatiga pada tahun 1994 silam, hingga bulan September 2017 ini, jumlah positif HIV/AIDS di Salatiga sebanyak 244 orang. Dari jumlah itu sebanyak 66 orang meninggal. “Prinsip kami temukan kasusnya sedini mungkin dan lakukan tata laksana pengobatan dengan baik,” imbuhnya.

Di kawasan Karaoke Sarirejo misalnya, dilakukan pemeriksaan kesehatan seminggu dua kali yaitu pada Selasa dan Kamis di balai pertemuan setempat. Untuk yang di luar Sarirejo, dilakukan sebulan sekali. DKK juga punya 25 outlet kondom yang tersebar di sejumlah titik rawan, seperti di Sarirejo, komunitas waria dan sebagainya.

Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan positif, maka langkah selanjutnya dilakukan pengobatan dan pendampingan. Pengobatan melalui layanan dengan pemberian obat antiretroviral kepada Orang Dengan HIV/AIDS (Odha). “Dalam pendampingan dan lainnya, DKK juga bermitra dengan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),” imbuh Siti.

Mulai tahun 2017 ini, setiap ibu hamil yang periksa ke Puskesmas wajib mengikuti screening HIV/AIDS. Tujuannya agar bisa diketahui secara dini dan upaya pencegahannya apabila ditemukan ibu hamil yang terinfeksi HIV/AIDS. “Targetnya, mulai 2017 yaitu zero kasus baru yaitu kasus penularan HIV/AIDS kepada bayi, zero kematian karena HIV/AIDS dan zero diskriminasi terhadap ODHA,” imbuhnya. (sas/ton)