Petani Sulit Dapatkan Pupuk

201

SEMARANG – Pupuk menjadi bahan baku utama bagi petani, sayangnya pupuk jenis urea kini mengalami kelangkaan. Tercatat hampir enam bulan terakhir, kekurangan pupuk terjadi sehingga membuat petani cemas dengan keadaan tanaman yang mereka tanam.

Pengecer pupuk dari Puspita Tani Semarang, Abdul Munir menjelaskan jika kelangkaan pupuk terjadi selama enam bulan terakhir atau pada Juni lalu. Padahal permintaan pupuk dari petani saat ini cukup besar namun ia tidak bisa mencukupi permintaan tersebut. “Dari distributor memang mengalami kekosongan, katanya ada pengurangan kuota pupuk dari Pemerintah untuk pengecer,” katanya.

Ia menjelaskan, pada tahun lalu, tercatat stok pupuk yang didapatkan untuk dipasok kepada petani mencapai 164 ton. Namun karena ada pengurangan kuota dari Pemerintah, membuat dirinya hanya bisa mendapatkan pasokan sekitar 50 ton. Pengurangan kuota tersebut, kata dia adalah pengaruh dari program kartu tani. “Padahal belum semua petani dapat, selain itu juga ada petani yang menyewa lahan dari orang lain,” jelasnya.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Rusdiana mengatakan jika saat ini tidak terjadi kelangkaan pupuk. Kesulitan mendapatkan pupuk yang dialami saat ini karena pupuk bersubsidi karena jatah petani sesuai dengan Sistem informasi Pertanian Indonesia (Sinpi) sudah habis sejak Bulan Juli. “Kuota yang disediakan Pemerintah berdasarkan Sinpi, jadi bukan langka pupuknya tapi memang kuotanya sudah habis,” ucapnya.

Ia menerangkan, dari total 4.000 petani yang ada di Kota Semarang, sebanyak 60 persen sudah mendapatkan kartu tani, sisanya masih diproses. Ada juga kartu yang sudah selesai dicetak namun belum didistribusikan BRI, sehingga kuota pupuk sesuai sinpi lebih kecil dari kebutuhan petani. “Petani harus punya opsi dan tidak tergantung pada pupuk subsidi, mereka bisa menggunakan pupuk organik yang juga murah namun hasilnya sangat bagus,” ucapnya. (den/bas)