Pelaku Batik Harus Terus Berinovasi

152
Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi. (istimewa)
Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi. (istimewa)

SEMARANG – Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mendorong agar pembatik bisa memiliki kompetensi di bidangnya. Selain itu, harus terus melakukan inovasi agar produk yang dihasilkan benar-benar bisa bersaing di pasangan. Dengan cara itu mereka bisa bersaing sekaligus meningkatkan kualitas agar batik yang dihasilkan bisa memiliki kualitas unggul.

“Selama ini sertifikasi pembatik kurang banyak diketahui khalayak, sehingga nilai jual dari hasil karya batik kurang mendapat respons,” kata Rukma Setyabudi.

Ia mendorong bagi semua pengusaha untuk memberikan kesempatan bagi pembatiknya untuk bisa mengikuti kompetensi supaya mendapatkan sertifikat. Bila memang berkompeten, ada nilai lebih dari pembatik untuk menciptakan hasil karyanya. Karena sekarang persaingan semakin banyak dan jelas harus ada nilai lebih. “Jika tidak kalah bersaing jelas akan menjadi masalah. Apalagi Jateng merupakan gudang batik,” tambahnya.

Tidak diakui, sekarang ini jumlah pembatik di Jateng yang memiliki sertifikat kompetensi masih sangat terbatas. Daerah-daerah yang menjadi penghasil batik pun seperti Pekalongan, Solo, juga banyak pembatiknya yang belum kompeten. Padahal mereka (pembatik) dari daerah tersebut secara skil telah mendapatkan ilmu secara turun temurun. “Kalau secara lingkungan sudah membentuk pembatik, tentu tidak salah bila skil itu ditambah dengan sertifikat kompetensi akan semakin menambah nilai,” tambahnya.

Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik, Subagyo, mengatakan, pihaknya terus menyosialisasikan lembaganya kepada pembatik supaya bisa digunakan sebagaimana fungsinya. Hanya saja kesadaran pembatik untuk melakukan uji kompetensi masih rendah. “Sebuah batik tidak saja dilihat dari motif melainkan juga dari warna dalam pola tersebut. Dengan demikian motif dengan warna menjadi seimbang tidak ada ruang dalam batik yang kosong,” katanya. (fth/bas)