Oleh: Kandida SPd MPd
Oleh: Kandida SPd MPd

“KID Zaman Now”, “Duh, gue tercyduk guru BK”, “Kamu kok sok alay”, Laper tapi mager”, adalah sederetan kalimat yang sedang populer saat ini. Dari orang biasa sampai pejabat publik bangga menggunakan kalimat tersebut. Saat ini, masyarakat kita sudah mulai mencampur Bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam pemakaian sehari-hari. Generasi muda justru lebih bangga berbicara menggunakan bahasa asing, meskipun tidak paham betul artinya. Mereka lebih memilih bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris, menjadi bahasa Internasional yang dianggap keren di era globalisasi.

Penyebab utama fenomena ini terjadi karena kebiasaan Bangsa Indonesia pada umumnya mudah terkontaminasi pengaruh luar dan mengagungkan semua hal yang berbau internasional. Dengan kata lain, generasi muda kurang bangga bahasa dan budayanya sendiri. Masuknya budaya asing membawa pengaruh kurang baik dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Kita seharusnya dapat mencontoh negara-negara lain yang menomorsatukan bahasa nasional, misalnya Jepang.

Pengaruh bahasa asing terhadap Bahasa Indonesia di era globalisasi ini membuat eksistensi Bahasa Indonesia kian menurun. Hal ini membuat generasi muda makin sulit mengetahui Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masyarakat tidak menyadari akibat pergaulan yang global dapat berdampak pada hilangnya jati diri atau identitas kebangsaannya, yakni Bahasa Indonesia.

Kita patut berbangga bahwa UNESCO telah menyatakan Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa internasional. Di Australia, Belanda, Jepang, Amerika Serikat dan masih banyak negara lain menjadikan Bahasa Indonesia sebagai materi pembelajaran, tetapi kita justru lebih bangga menggunakan bahasa asing. Karena itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri agar jati diri bangsa ini dapat terlihat melalui bahasa. Bukanlah pepatah mengatakan”Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Sebagai warga Negara Indonesia yang baik, sepantasnya Bahasa Indonesia itu dicintai dan dijaga. Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan melalui forum resmi baik melalui pendidikan maupun kegiatan non kependidikan.

Fenomena negatif yang saat ini terjadi di masyarakat kita terutama di kota besar di mana iklan lebih banyak menggunakan bahasa asing, baik media cetak maupun elektronik. Penulisan status di sosial media yang jauh dari Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan bahasa ucapan di Youtube yang campur aduk seenaknya sendiri menjadi keprihatinan kita semua. Kita seharusnya bangga dengan bahasa nasional yang telah mempersatukan kemajemukan Indonesia. Seharusnya generasi muda membudidayakan berbahasa yang baik dan benar dalam berkomunikasi, karena generasi muda sebagai penerus bangsa

Tanggung jawab terhadap perkembangan Bahasa Indonesia, tentunya tidak lepas dari intervensi pemerintah juga pemakai bahasa itu sendiri. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga sudah diterapkan melalui pendidikan formal maupun nonformal. Sebagai warga negara yang baik, sepantasnya Bahasa Indonesia itu dicintai, dijaga, dan dipertahankan serta melestarikan. Karena itu, bangsa Indonesia harus bisa membedakan pengaruh positif dan negatif terhadap perkembangan Bahasa Indonesia dengan cara berpegang teguh pada Pancasila dan Sumpah Pemuda. (*/aro)

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 10 Semarang