Donor ASI Tak Boleh Asal-Asalan

505
KAMPANYE ASI EKSKLUSIF: Komunitas ibu-ibu menyusui Eksklusif Pumping (E-Ping) yang gencar kampanye pemberian ASI eksklusif kepada bayi. (DOKUMENTASI E-PING)
KAMPANYE ASI EKSKLUSIF: Komunitas ibu-ibu menyusui Eksklusif Pumping (E-Ping) yang gencar kampanye pemberian ASI eksklusif kepada bayi. (DOKUMENTASI E-PING)

SELAIN dikonsumsi buah hatinya sendiri, ada sebagian ibu berbagi ASI kepada bayi selain anaknya sendiri alias donor ASI.  Khususnya, ibu-ibu yang produksi ASI-nya melimpah. Praktik berbagi ASI ini dapat membawa manfaat bagi bayi-bayi yang membutuhkan, seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, sementara sang ibu belum mampu memproduksi ASI.

Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) cabang Jawa Tengah, Rachmadani, mengatakan, soal donor ASI ini menjadi salah satu yang diedukasi kepada para ibu-ibu. Sebab, donor ASI bukan satu hal yang bisa dilakukan sekonyong-konyong. “Tidak ada itu namanya tuker-tukeran ASI. Memang kalau donor ada. Tapi itupun harus dengan alasan medis, artinya tidak sembarangan. Mirip dengan donor darah,” tegasnya.

Dijelaskan, melakukan donor ASI tidak boleh asal-asalan. ASI memiliki kandungan DNA yang berasal dari pemiliknya. Sementara kita tidak pernah tahu apakah orang tersebut memiliki sakit bawaan, yang kemudian dapat ditularkan melalui ASI tersebut. Sebab, meskipun ASI itu adalah susu, tetapi ia sebenarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit. Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV, hepatitis B dan C, dan  HTLV atau virus pemicu leukemia dan limfoma.

“Donor ASI itu bisa dilakukan melalui beberapa prosedur. Kalau dari AIMI, harus karena alasan medis. Artinya, jika si ibu ini punya bayi, namun dia sakit dan harus menjalani perawatan yang bikin dia tidak bisa memberikan ASI secara langsung,” jelasnya.

Psikolog RS Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro, mengatakan, saat ini memang sudah banyak pendonor ASI, termasuk yang datang di rumah sakit tempatnya bekerja. Hanya saja, pihaknya tetap melihat segi kesehatan dari wanita yang akan memberikan donor ASI. Menurutnya, seorang anak yang diberi ASI dari wanita lain, bukan dari ibu kandungnya tidak ada masalah secara psikolog perkembangan bayinya. Asalkan, si ibu bayi memberikan ASI yang diperoleh dari pendonor tersebut sendiri.

“Terpenting cara memberikan ASI, bisa dengan cara dipangku, dipeluk, dan diberi kasih sayang oleh ibu kandungnya, bukan diberikan oleh si pendonor.  Jangan melihat ASI-nya dari mana, tapi interaksi dengan ibu dan anak, ada pandangan mata,”ungkapnya.

Ia menjelaskan, ASI dari donor harus dipompa dan disimpan dengan cara yang benar bahkan dipasturisasi. ASI yang diperoleh dari pendonor biasanya dikemas dalam botol lalu disimpan di freezer.  “Jadi, ASI yang diperoleh dari pendonor tetap harus di botol. Untuk pemberiannya tetap oleh ibu kandungnya sendiri,” tegasnya.

Dikatakannya, dari pencermatannya tidak ada efek mengenai masalah ASI itu dari ibu kandungnya atau dari pendonor, karena yang lebih penting adalah cara memberikannya.  “Yang utama si pendonor ASI juga harus sehat, jadi jangan sembarang mencari pendonor, di RS Elisabeth juga ada, yang jelas daripada susu formula lebih baik ASI, dan terpenting cara memberikannya,”katanya. (tsa/jks/aro)