Mega Amalia (DOKUMEN PRIBADI)
Mega Amalia (DOKUMEN PRIBADI)

MENJADI seorang public relations atau PR adalah sebuah obsesi sekaligus cita-cita Mega Amalia. Ya, dara kelahiran Semarang, 17 Juli 1990 ini, mulai memutuskan menjadi seorang public relations ketika masih duduk di bangku SMA.

“Dulu awalnya lihat profil seorang public relations di koran, nah dari situlah saya punya obsesi sekaligus cita-cita,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mega –sapaan akrabnya—pun memilih kuliah di D3 Public Relations Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk mewujudkan obsesinya itu. Setelah 3 tahun kuliah, pada 2012, ia dinyatakan lulus. Selanjutnya, Mega meneruskan kuliah S1 Ilmu Komunikasi di FISIP Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

“Ilmu komunikasi bukan hanya pada nilai kuliah saja. Kecakapan dalam berbicara harus dengan praktik. Dari situ saya membekali diri dengan kegiatan-kegiatan yang menunjang ilmu saya selama kuliah,” jelasnya.

Untuk mengasah soft skill-nya tersebut, Mega pernah menjadi penyuluh di PKBI tentang kesehatan reproduksi, tour guide di Borobudur, bahkan menjadi asisten dosen. Hal itu dilakukan untuk mengasah skill komunikasi untuk dunia kerja yang diidamkan.

Dengan pengalaman segudang itulah, ia sempat menjadi public relations di Oak Tree Hotel, hingga saat ini menjadi public relations di Grand Candi Hotel Semarang. “Bagi saya dalam dunia kerja, yang diperlukan adalah pengalaman. Jadi, harus memperbanyak pengalaman sedini mungkin,” ucapnya.

Mega mengaku, tantangan menjadi public relations kini dia hadapi, seperti membuat event yang megah, namun dengan budget seminim mungkin. Menjaga relasi dengan stakeholder dan lainnya.

Di sela kesibukannya, Mega masih menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya, berenang. “Biasanya sepekan sekali saya berenang untuk refreshing sekaligus olahraga,” tuturnya.(den/aro)