Sekeluarga Tinggal di Bekas Kandang Sapi

506
BUTUH BANTUAN: Pramono sedang memasak di tungku yang letaknya berdekatan dengan tempat tidur mereka. (IST)
BUTUH BANTUAN: Pramono sedang memasak di tungku yang letaknya berdekatan dengan tempat tidur mereka. (IST)

SALATIGA- Pramono, 38, warga Suko RT 09 RW 07, Kelurahan Sidorejo Lor, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia tinggal bersama keempat anaknya di rumah ukuran 6 x 5 meter persegi beralaskan tanah dan dinding anyaman bambu yang mulai keropos. Sejauh ini, mereka mengaku belum ada perhatian dari pemerintah.

Pramono yang pekerja serabutan itu tinggal bersama keempat anaknya, Alifia Rahmawati, 14, yang sekolah di SMP PL, Alfian Putra Permana,10, kelas V SDN Sidorejo Lor 04, Levi Arza Sefriana, 9, kelas 3 SD; dan Dava Gilang Permana, 5, belum sekolah. Sedangkan istrinya meninggalkan rumah sekitar 4 tahun lalu.

Kondisi rumah yang memprihatinkan tersebut, kali pertama diketahui persone Bhabinkamtibmas Kelurahan Sidorejo Lor Aiptu Mustakim dan Kapolsek Sidorejo AKP Jumaeri. “Kami awalnya keliling untuk patroli, kebetulan juga akan menengok anak Pramono yang sedang disunat. Tapi begitu masuk, kami melihat rumahnya memprihatinkan,” ujar Jumaeri di lokasi, Jumat (15/12).

Ruang tamu praktis tak ada. Pembatas antar ruangan hanya sekat saja. Kemudian di belakangnya tempat tidur tingkat, di bawahnya dekat dengan tungku untuk tempat memasak. “Tempat tidur ini jarang dipakai untuk tidur, bersama anak-anak tidur di lantai dan beralaskan kasur,” ujar Pramono saat ditemui di rumahnya.

Tempat memasak berdekatan dengan tempat tidur yang tingkat. Kemudian sebelah dapur digunakan menaruh perabot rumah tangga seperti piring, gelas maupun kompor gas. “Bangunan ini dulunya bekas kandang sapi terus dibongkar. Sekitar tahun 2013, kami bangun rumah ini. Kalau ada uang, kami beli gas elpiji, tapi seringnya masak pakai kayu bakar,” ujar Pramono yang di rumahnya menerima servis barang-barang elektronik.

Dijelaskan Pramono, istrinya dulu pamit mau bekerja. Awalnya, seminggu sekali pulang, kemudian dua minggu sekali pulang, terus sebulan sekali pulang. Setelah itu, tidak pernah pulang sampai sekarang.

Ia pun mengaku, dulu pernah didatangi pengawai pemerintah yang mendata rumahnya. Namun hingga sekarang, tak ada realisasi bantuan. “Katanya terhambat karena status tanah ini. Tapi, ini ada bukti pajak tanahnya. Kalau dibantu ya Alhamdulillah,” tuturnya seraya menunjukkan data pengajuan bantuan yang masih disimpannya, itu. (sas/ton)